Tampilkan postingan dengan label Environment. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Environment. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Mei 2025

Dokumen Rancangan Aksi Mitigasi

Strategi Terencana Menuju Masa Depan Rendah Emisi

Dalam menghadapi krisis iklim global, setiap negara dituntut untuk mengambil langkah konkret dalam mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK). Salah satu instrumen penting dalam mencapai target penurunan emisi adalah Dokumen Rancangan Aksi Mitigasi. Dokumen ini tidak hanya menjadi panduan teknis dan kebijakan, tetapi juga menunjukkan keseriusan sebuah negara atau daerah dalam menghadapi perubahan iklim.

Apa Itu Dokumen Rancangan Aksi Mitigasi?

Dokumen Rancangan Aksi Mitigasi (RAM) adalah dokumen strategis yang memuat rencana kegiatan, program, atau kebijakan yang dirancang secara sistematis untuk mengurangi emisi GRK dari berbagai sektor penyumbang utama, seperti energi, transportasi, limbah, pertanian, dan kehutanan.

Dokumen ini biasanya disusun oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, sebagai bagian dari komitmen nasional dalam menurunkan emisi, sejalan dengan target Nationally Determined Contribution (NDC) dan perjanjian internasional seperti Paris Agreement.


Tujuan Rancangan Aksi Mitigasi

  1. Merinci Upaya Penurunan Emisi
    RAM mengidentifikasi langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan untuk menurunkan emisi di sektor-sektor utama.

  2. Meningkatkan Efektivitas Implementasi
    Dengan perencanaan yang matang, implementasi program mitigasi menjadi lebih terarah, terukur, dan efisien.

  3. Mendukung Kebijakan Nasional
    Dokumen ini membantu sinkronisasi antara kebijakan daerah dan target nasional dalam penanggulangan perubahan iklim.

  4. Menarik Dukungan dan Pembiayaan
    RAM yang baik dan transparan dapat digunakan untuk memperoleh dukungan teknis dan pendanaan dari donor internasional dan lembaga keuangan.


Komponen Utama dalam RAM

  1. Inventarisasi Emisi
    Memetakan sumber emisi GRK dari sektor-sektor utama dalam wilayah tertentu.

  2. Target Penurunan Emisi
    Menetapkan besaran target penurunan emisi yang akan dicapai dalam jangka pendek, menengah, hingga panjang.

  3. Strategi dan Kegiatan Mitigasi
    Menjabarkan program-program dan proyek konkret, misalnya efisiensi energi, pemanfaatan energi terbarukan, pengurangan pembakaran lahan, dan lain-lain.

  4. Kerangka Waktu dan Indikator
    Menentukan tahapan waktu pelaksanaan dan indikator keberhasilan dari masing-masing aksi mitigasi.

  5. Kebutuhan Sumber Daya
    Menganalisis kebutuhan dana, teknologi, dan sumber daya manusia untuk mendukung pelaksanaan RAM.

  6. Monitoring dan Evaluasi
    Menyusun sistem pemantauan dan pelaporan untuk memastikan implementasi berjalan sesuai rencana.


Contoh Aksi Mitigasi dalam RAM

  • Sektor Energi: Penerapan panel surya, konversi ke kendaraan listrik, dan peningkatan efisiensi listrik di sektor industri dan rumah tangga.

  • Sektor Transportasi: Pengembangan transportasi publik berbasis listrik atau bahan bakar rendah emisi.

  • Sektor Kehutanan: Program reboisasi, penghentian konversi hutan, dan konservasi lahan gambut.

  • Sektor Limbah: Optimalisasi pengelolaan sampah terpadu, teknologi landfill gas capture, dan pemanfaatan limbah sebagai energi.


Tantangan dalam Penyusunan dan Implementasi RAM

  • Keterbatasan Data dan Kapasitas: Kurangnya data akurat dan sumber daya manusia yang memahami metodologi penghitungan emisi.

  • Pendanaan: Aksi mitigasi membutuhkan investasi besar, dan tidak semua pemerintah daerah memiliki anggaran yang cukup.

  • Koordinasi Lintas Sektor: Perlu sinergi antara berbagai pihak, termasuk sektor swasta dan masyarakat sipil.


Dokumen Rancangan Aksi Mitigasi bukan sekadar dokumen administratif, tetapi merupakan fondasi utama dalam perjalanan menuju pembangunan berkelanjutan dan rendah karbon. Melalui penyusunan RAM yang berbasis data, partisipatif, dan visioner, kita dapat memastikan bahwa upaya mitigasi tidak hanya menjadi wacana, tetapi juga gerakan nyata yang berdampak bagi bumi dan generasi mendatang.

Dengan memperkuat RAM di tingkat lokal dan nasional, Indonesia akan semakin siap menjadi bagian dari solusi global dalam menghadapi perubahan iklim.

Minggu, 05 Desember 2021

Pray For Semeru

 

\

#PRAYFORSEMERU
Semoga Tuhan YME memberikan perlindungan dan keselamatan bagi warrga sekitar Gunung Semeru

SGN Consulting
Soeket Ganesha Nusantara


Kamis, 11 November 2021

Memahami Gas-Gas yang Menimbulkan Efek Rumah Kaca

Efek rumah kaca (greenhouse effect) adalah penggerak utama perubahan iklim yang  telah terjadi di bumi. Dan penyebab utama terbesar adalah beberapa gas di atmosfer bumi yang menjebak panas matahari. Semakin banyak gas rumah kaca terkonsentrasi di atmosfer, akan semakin banyak panas yang terkunci di dalam molekul. 


Sumber : scitechdaily.com

Sejak tahun 1824 para ilmuwan telah mengetahui mengenai efek rumah kaca. Mereka telah menghitung bahwa Bumi akan jauh lebih dingin jika tidak memiliki atmosfer. Efek rumah kaca alami inilah yang membuat iklim bumi tetap layak huni. Tanpanya, rata-rata temperatur di permukaan bumi akan menjadi 33 derajat celcius lebih dingin. 

Banyak dari gas rumah kaca ini terjadi secara alami. Namun aktivitas manusia sejak revolusi industri telah meningkatkan konsentrasinya di atmosfer. Berikut gas-gas yang menyebabkan pemanasan global. 

  • Carbon dioxide (CO2) 
  • Methane 
  • Nitrous oxide 
  • Fluorinated gases 

Karbon dioxide (CO2) yang dihasilkan oleh aktivitas manusia merupakan penyumbang terbesar pemanasan global. Pada tahun 2020, konsentrasinya di atmosfer telah meningkat menjadi 48% di atas tingkat konsentrasi di jaman pra-industri (sebelum tahun 1750). CO2 adalah gas rumah kaca berumur panjang yang paling signifikan di atmosfer bumi. CO2 juga menyebabkan pengasaman laut karena CO2 larut di dalam air dan membentuk asam karbonat.

Metana adalah gas rumah kaca yang lebih kuat daripada CO2, namun memiliki umur hidup yang lebih pendek di atmosfer. Konsentrasi metana di atmosfer bumi telah meningkat sekitar 150% sejak tahun 1750, dan menyumbang 20% dari total radiasi gas rumah kaca. 

Nitrous oxide, seperti CO2, adalah gas rumah kaca berumur panjang yang terakumulasi di atmosfer selama beberapa dekade hingga berabad-abad. Konsentrasi oksida nitrat di atmosfer mencapai 333 bagian per miliar (ppb) pada tahun 2020, meningkat dengan laju sekitar 1 ppb per tahun. Berdasarkan perhitungan global, sumber dan penyerapan N2O selama dekade yang berakhir 2016 menunjukkan bahwa sekitar 40% dari rata-rata 17 TgN/tahun (Tera-gram Nitrogen per tahun) emisi berasal dari aktivitas manusia, dan menunjukkan bahwa pertumbuhan emisi terutama berasal dari perluasan area pertanian serta industri di negara berkembang. 

Fluorinated gases adalah gas buatan manusia yang dapat bertahan di atmosfer selama berabad-abad dan berkontribusi pada efek rumah kaca global. Terdiri dari hidrofluorokarbon (HFC) - digunakan dalam banyak aplikasi termasuk pendinginan komersial, pendinginan industri, sistem pendingin udara, peralatan pompa panas, dan sebagai agen peniup untuk busa, pemadam kebakaran, propelan aerosol, dan pelarut; Perfluorocarbons (PFCs) - senyawa yang terdiri dari fluor dan karbon, banyak digunakan dalam industri elektronik, kosmetik, dan farmasi, serta dalam proses pendinginan bila dikombinasikan dengan gas lainnya. PFC biasanya digunakan sebagai alat pemadam kebakaran di masa lalu dan masih ditemukan di sistem proteksi kebakaran yang lebih tua. Mereka juga merupakan produk sampingan dari proses peleburan aluminium; Sulfur heksafluorida (SF6) digunakan terutama sebagai gas insulasi dan sering ditemukan pada switchgear tegangan tinggi dan digunakan dalam produksi magnesium. 

Berikut adalah beberapa penyebab dari meningkatnya emisi gas rumah kaca. 

  1. Pembakaran batu bara, minyak, dan gas menghasilkan karbon dioksida dan dinitrogen oksida yang dilepas ke atmosfer. 
  2. Penebangan hutan (deforestasi). Pohon membantu mengatur iklim dengan menyerap CO2 dari atmosfer. Ketika ditebang, manfaatnya dalam menyerap CO2 hilang dan karbon yang tersimpan di dalam pohon akan dilepaskan ke atmosfer, dan menambah efek rumah kaca. 
  3. Meningkatkan peternakan. Sapi dan domba menghasilkan metana dalam jumlah besar ketika mereka mencerna makanan mereka. 
  4. Pupuk yang mengandung nitrogen menghasilkan emisi oksida nitrat. 
  5. Gas fluorinated dipancarkan dari peralatan dan produk yang menggunakannya. Emisi tersebut memiliki efek pemanasan yang sangat kuat, hingga 23.000 kali lebih besar dari CO2.

Erwin K. Awan (12.11.2021)
SGN Consulting

Jumat, 05 November 2021

COP26 – Bersatunya Dunia Mengatasi Perubahan Iklim

Pandemi COVID-19 telah menimbulkan bencana bagi jutaan orang di seluruh dunia serta mengacaukan ekonomi global. Pemerintahan di seluruh dunia telah mengambil langkah untuk melindungi kehidupan serta mata pencaharian bagi setiap orang. Namun perubahan iklim masih terus berlanjut, dan pada akhirnya dapat mengancam kehidupan di muka bumi.

Ketika banyak negara mulai pulih dari pandemi COVID-19, di saat yang bersamaan kita juga harus mengatasi perubahan iklim, membangun kembali ekonomi yang lebih hijau serta menjaga suhu planet tetap terkendali, membatasi kenaikannya hingga 1,5 derajat. Sains menyatakan bahwa di paruh kedua abad ini, kita harus memproduksi lebih sedikit karbon. Inilah yang dimaksud dengan 'net zero'.

Perjalanan sudah dimulai. Meskipun dalam masa pandemi, arah perjalanan telah berganti. Sekitar 70% dari ekonomi dunia sekarang tercakup oleh target nol bersih (net-zero). Dunia sedang bergerak menuju masa depan rendah karbon. Energi yang bersih dan ramah lingkungan, seperti angin dan matahari, sekarang menjadi sumber listrik paling murah di sebagian besar negara-negara; membuat banyak pembuat mobil dunia beralih untuk hanya membuat model listrik dan hibrida; negara-negara di seluruh dunia memulai pekerjaan penting untuk melindungi dan memulihkan alam. Kota-kota dan negara-negara di seluruh dunia juga berkomitmen untuk mengurangi emisi hingga nol.

Sayangnya mengurangi emisi saja tidaklah cukup. Bagi banyak negara, gambarannya jauh lebih suram. Terutama bagi negara-negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, yang telah melihat rumah mereka menghilang di bawah air dan tanaman mereka hancur karena kekeringan. Di tahun 2009, negara-negara maju telah berjanji akan berupaya mengumpulkan $100 miliar setiap tahun pada tahun 2020 untuk membantu negara-negara ini mengatasi perubahan iklim. Dan para negara pendonor harus menunjukkan bahwa target akan tercapai dan bahkan dilampaui.

Tidak ada cara yang memadahi untuk mencapai emisi nol bersih tanpa melibatkan perlindungan dan pemulihan alam dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jika kita serius dalam mencegah kenaikan suhu hingga 1,5 derajat dan beradaptasi dengan dampak perubahan iklim, kita harus mengubah cara kita melindungi tanah dan laut kita dan bagaimana cara kita menanam makanan kita. Hal ini sangat penting jika kita ingin melindungi dan memulihkan keanekaragaman hayati dunia, tempat semua kehidupan bergantung.

Semoga dalam even COP26 tahun ini di Glasgow, UK, akan dihasilkan tindakan dalam melindungi dan memulihkan hutan dan ekosistem kritis, serta menjadi penggerak dalam transisi menuju pertanian yang berkelanjutan, tangguh, dan positif terhadap alam.


SGN Consulting

Erwin K. Awan (05.11.2021)

Minggu, 10 Oktober 2021

Carbon Footprint


Badan Energi Internasional (IEA) melaporkan total emisi karbon dioksida (CO2) mencapai 33,9 gigaton (Gt) sepanjang 2020, dengan kontribusi terbesar dari listrik dan pemanas (13,5 Gt), Industri (8,5 Gt), transportasi (7,2 G) 
#jejakkarbon #carbonfootprint #emisikarbon #totalemisikarbon
-
SGN Consulting
Soeket Ganesha Nusantara


Jumat, 08 Oktober 2021

Pohon Trembesi


Prof. Endes N. Dahlan, Pakar tanaman hutan kota, mengatakan pohon trembesi paling tinggi menyerap karbondioksida (CO2) di udara, yaitu sebesar 28.488,39 kg karbondioksida per tahun 
#emisikarbon #pohontrembesi #dayaseraptrembesi #emissionstotrees
-
SGN Consulting
Soeket Ganesha Nusantara


Kamis, 07 Oktober 2021

Emisi Karbon dari Solar Truk


Berdasarkan laporan IPCC tahun 1996, disebutkan bahwa kendaraan jenis truk mengeluarkan emisi gas karbondioksida sebesar 2.924,90 gram per liter solar 
#emisikarbon #emisitruk #emisisolar
-
SGN Consulting
Soeket Ganesha Nusantara

Rabu, 22 September 2021

World Car Free Day

 


Share the Road & Breathe Life 
World Car Free Day
22 September 2021
-
SGN Consulting
Soeket Ganesha Nusantara

Selasa, 21 September 2021

Zero Emissions Day


What are your ideas for cutting down on emissions?
Zero Emissions Day
21 September 2021
-
SGN Consulting
Soeket Ganesha Nusantara

Minggu, 19 September 2021

Rabu, 03 Maret 2021

Hitungan Mundur Memulihkan Harapan

Hari Kamis ini bertepatan dengan angka cantik, yaitu tanggal 4, bulan 3 tahun 21 (4.3.21) mirip dengan hitungan mundur. Semoga ini menjadi momen hitungan mundur untuk memulihkan harapan. Memulihkan harapan dalam hal apa pun.

Salah satunya adalah harapan dari pandemi yang melanda di dunia, terlebih pada tanggal 02 Maret lalu sudah tepat 1 tahun pandemi ini menjangkiti di Indonesia. Harapan ini bisa terwujud terutama saat ini pemerintah telah gencar dengan program vaksinasi, sehingga diharapkan dengan vaksin tersebut dapat menjadi salah satu cara pemulihan dalam bidang kesehatan dan ekonomi.

Mengenai vaksin saat ini adalah hanya masalah waktu, kita menunggu waktu seperti hitungan mundur, dan akhirnya segera usai. Namun, sambil menunggu antrian vaksin, mari kita tetap tertib protokol kesehatan menjalankan Adaptasi Kebiasaan Baru dengan melaksanakan 3M (mencuci tangan, menjaga tangan, menjaga jarak).

Dikutip dari dw.com, hilangnya hutan dan meningkatnya kontak antara manusia dan satwa liar adalah pendorong utama munculnya patogen baru, seperti seperti misalnya, virus Ebola dan virus Marburg yang sempat mewabah di Uganda, serta yang terbaru SARS-CoV-2 atau virus corona.

Berdasarkan data layanan pemantauan Global Forest Watch (GFW) tahun 2019, setiap 6 detik hutan hujan tropis seluas satu lapangan sepak bola menyusut dan hilang. Penebangan hutan berdampak pada perubahan iklim, karena pohon menyerap sekitar sepertiga emisi karbon yang dihasilkan di seluruh dunia.

Deforestasi menyebabkan 12 hingga 18 % emisi karbon dunia tidak terserap, dan nilai tersebut setara dengan emisi karbon dari transportasi di seluruh dunia.

Semoga menjelang Hari Hutan Sedunia yang diperingati setiap tanggal 21 Maret mengingatkan kita kembali pada visi misi kehutanan kaitannya dengan perubahan iklim di seluruh dunia. Mengingatkan kepada masyarakat tentang pentingnya hutan bagi kelangsungan hidup manusia.

 

Salam sehat dan salam improvement.

4.3.21

Selasa, 23 Februari 2021

Peduli Sampah


United Nations Environment Program (UNEP) melaporkan bahwa kerugian yang ditimbulkan dari pembuangan sampah plastik ke laut mencapai USD13 miliar atau sekitar Rp180 triliun per tahun.

Sampah-sampah plastik yang terapung di laut hanya sekitar 5 % dari total sampah, konon 95% berada di dasar laut. Hal ini dapat membahayakan ekosistem di laut. Dan berdasarkan berbagai sumber, berikut adalah 5 negara penghasil sampah terbanyak di dunia. 

  1. China, sekitar 11,5 juta ton setiap tahunnya, dengan 78% (8,8 juta ton) berakhir di lautan lepas. 
  2. Indonesia, setiap tahun Indonesia memproduksi 3,2 juta ton sampah plastik yang sebagian besarnya berakhir di laut. 
  3. Vietnam, setiap tahunnya Vietnam menghasilkan 1,8 juta ton sampah plastik yang bermuara di lautan lepas. 
  4. Filipina, dengan produksi 2,2 juta ton sampah plastik per tahunnya. 
  5. Sri Lanka, dengan total produksi sampah per tahunnya mencapai 1,8 juta ton.

Salah satu faktor penyebabnya adalah karena sistem daur ulang sampah plastik belum berjalan baik, selain itu juga kesadaran masyarakat masih kurang untuk tidak membuang sampah sembarangan, serta banyak yang belum peduli dengan bahayanya sampah plastik dan penggunaan kantong plastik sekali pakai.

Dan hari Minggu lalu, tanggal 21 Februari 2021 bertepatan dengan hari yang berkaitan dengan lingkungan, yaitu tepatnya adalah Hari Peduli Sampah Nasional. Tanggal ini dipilih sekaligus untuk memperingati kejadian pada tahun 2005 lalu saat terjadinya tragedi longsor sampah di TPA Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat.

Diharapkan dengan hari peringatan ini dapat menjadi pemicu bagi seluruh rakyat Indonesia agar peduli terhadap lingkungan, bersih dari sampah, dan tidak lagi membuang sampah sembarangan.

Diluar sampah di laut, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2016, jumlah sampah rumah tangga sangat tinggi mencapai 42%, disusul oleh sampah pasar tradisional 20,11%.

Hal ini menjadi perhatian beberapa orang yang tergabung dalam komunitas untuk tergerak dan terlibat lebih aktif mengampanyekan program sayangi bumi, sehingga semua mahluk hidup yang ada di dalamnya bakal hidup nyaman dan aman.

Salah satu komunitas peduli lingkungan adalah Komunitas Sobung Sarka (Tidak Ada Sampah atau Zero Waste) untuk meminimalisir keberadaan sampah rumah tangga di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Komunitas Sobung Sarka berdiri di akhir tahun 2018 dan memfokuskan diri dibidang lingkungan. Sobung Sarka aktif melakukan kampanye untuk menggunakan Tumbler atau botol plastik untuk mengurangi tumpukan sampah air minum dalam kemasan (AMDK).

Selain itu Sobung Sarka juga mengajarkan kepada masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri, seperti pembuatan kompos dari sampah rumah tangga, Ecoenzym atau pupuk cair. Bulan November 2019 sampai Maret 2020, Sobung Sarka menghimpun sikat gigi bekas dari masyarakat untuk dikirim ke Jakarta dan diolah menjadi bahan dasar meja lipat.

Dan saat hari peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2021, Sobung Sarka mengadakan pameran daur ulang sampah (upcycle) sampah. Sampah yang didaur ulang itu antara lain sampah plastik, dan pakaian. Sampah plastik dan pakaian itu didaur ulang menjadi sejumlah barang, seperti tas, keset, tatakan, pita rambut, juga bean-bag.

Tujuannya adalah agar tidak banyak sampah yang terbuang ke TPS, dan sekaligus sebagai upaya gerakan meminimalkan sampah.

Mari lebih peduli pada lingkungan.

Jaga Alam, Lindungi Bumi : Dari Botol Plastik Menuju Aksi Nyata

Jaga Alam, Melindungi Bumi: Dari Botol Plastik Menuju Aksi Nyata Botol plastik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. P...