Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Oktober 2026

Seminar SCM

Supply Chain Management sering kali dipahami sebagai persoalan bagaimana barang bergerak dari supplier menuju customer. Namun dalam perkembangannya, SCM tidak lagi hanya berbicara tentang material, inventory, warehouse, transportation, procurement, atau distribution. Supply chain pada akhirnya adalah tentang bagaimana data digunakan untuk mengambil keputusan, bagaimana manusia menjalankan proses, dan bagaimana organisasi membangun kemampuan untuk bertahan menghadapi perubahan.

Perspektif tersebut menjadi benang merah dalam sebuah seminar SCM oleh Bincang Supply Chain (BSC) dengan tajuk Bedah Buku & Bincang Profesi "The Supply Chain Profession" yang menghadirkan beberapa pembicara dengan sudut pandang yang berbeda. Menariknya, materi yang disampaikan tidak berhenti pada aspek teknis Supply Chain, tetapi membawa peserta pada sebuah perjalanan yang lebih luas: dari data menuju manusia, dari kemampuan menuju karakter, dan dari manajemen menuju rasa.

Seminar diawali oleh Agung Ektika. Dalam dunia supply chain modern, data bukan lagi sekadar catatan transaksi. Data telah menjadi salah satu sumber daya strategis yang menentukan kualitas keputusan.

Supply chain menghasilkan data dalam jumlah besar. Sales menghasilkan data demand, procurement menghasilkan data purchasing, warehouse menghasilkan data inventory, production menghasilkan data output dan downtime, transportation menghasilkan data delivery, sedangkan finance menghasilkan data cost. Jika seluruh data tersebut hanya dikumpulkan tanpa dianalisis, maka data tidak lebih dari sekumpulan angka.

Nilai data baru muncul ketika data mampu menjawab pertanyaan bisnis. Apa yang sedang terjadi? Mengapa hal tersebut terjadi? Apa yang kemungkinan akan terjadi? Dan apa yang harus kita lakukan?

Di sinilah data analytics menjadi penting. Data membantu organisasi bergerak dari sekadar knowing menuju understanding, kemudian menuju decision making. Namun supply chain tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk membaca data. Supply chain juga membutuhkan resilience.

Dunia bisnis tidak pernah berada dalam kondisi yang benar-benar stabil. Perubahan demand, gangguan supplier, perubahan harga, keterlambatan transportasi, bencana, perubahan teknologi, hingga perubahan geopolitik dapat mengganggu aliran supply chain. Organisasi yang hanya dibangun untuk kondisi normal akan mudah terganggu ketika kondisi berubah.

Karena itu, data dan resilience sebenarnya memiliki hubungan yang sangat erat. Data membantu organisasi membaca perubahan. Resilience membantu organisasi merespons perubahan. Data memberikan visibility, sedangkan resilience memberikan capability.

Dari pembahasan tentang data dan ketangguhan organisasi, seminar kemudian bergerak menuju aspek yang lebih fundamental, manusia.

Materi kedua disampaikan oleh Dr. Ir. Ari Primantara, S.T., M.MT., IPM., CSCA., CPLM membawa peserta pada pemahaman bahwa teknologi dan sistem tidak akan memberikan hasil optimal tanpa manusia yang memiliki kompetensi yang tepat.

Salah satu yang disampaikan adalah mengenai KSA — Knowledge, Skill, Attitude. Knowledge memberikan pemahaman. Skill membuat seseorang mampu melakukan. Sedangkan Attitude menentukan bagaimana seseorang menggunakan pengetahuan dan keterampilan tersebut.

Seseorang dapat memiliki pengetahuan yang tinggi, tetapi tanpa keterampilan, pengetahuan tersebut sulit diterapkan. Seseorang juga dapat memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik, tetapi tanpa attitude yang tepat, kemampuan tersebut belum tentu menghasilkan kontribusi terbaik bagi organisasi.

Dalam konteks SCM, persoalan manusia sering kali menjadi faktor yang tidak terlihat di balik persoalan operasional. Sistem mungkin sudah tersedia, SOP mungkin sudah dibuat, KPI mungkin sudah ditetapkan, tetapi hasil belum sesuai harapan.

Maka pertanyaannya tidak selalu, “Apa yang salah dengan sistem?”

Terkadang pertanyaan yang lebih tepat adalah, “Apakah orang yang menjalankan sistem tersebut memiliki Knowledge, Skill, dan Attitude yang dibutuhkan?”

Pada titik ini, SCM kembali menunjukkan bahwa keberhasilan proses tidak hanya ditentukan oleh system, tetapi juga oleh people.

Pembahasan kemudian semakin dalam ketika Dr. Shovella Santy Alrosjid membawa materi ketiga, salah satunya adalah mengenai Management People dan Self Driving Mentality.

Mengelola manusia bukan sekadar membagi pekerjaan, memberikan target, kemudian mengawasi hasilnya. Manajemen manusia juga berarti membangun lingkungan di mana seseorang memiliki kesadaran untuk menjalankan tanggung jawabnya tanpa harus selalu menunggu instruksi.

Inilah makna penting dari Self Driving Mentality. Seseorang dengan self-driving mentality tidak selalu bertanya, “Saya harus melakukan apa?”

Tetapi mulai bertanya, “Apa yang perlu saya lakukan agar tujuan organisasi tercapai?”

Perbedaan kedua pertanyaan tersebut terlihat sederhana, tetapi memiliki dampak yang sangat besar. Pertanyaan pertama menunjukkan pola pikir waiting for instruction.

Pertanyaan kedua menunjukkan pola pikir taking ownership. Dalam organisasi yang kompleks, terutama supply chain, tidak semua situasi dapat dituliskan di dalam SOP. Selalu ada kondisi yang berada di luar skenario.

Supplier terlambat. Customer mengubah order. Mesin berhenti. Material tidak tersedia. Transportasi terganggu. Demand berubah secara tiba-tiba.

Dalam kondisi seperti itu, organisasi membutuhkan orang yang tidak hanya mampu menjalankan prosedur, tetapi juga mampu berpikir, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap konsekuensinya.

Di sinilah Self Driving Mentality menjadi bagian dari resilience. Organisasi yang resilient membutuhkan manusia yang resilient.

Dan manusia yang resilient bukan hanya manusia yang mampu bertahan menghadapi masalah, tetapi manusia yang mampu mengambil inisiatif untuk mencari jalan keluar.

Seminar kemudian memasuki bagian yang paling menarik sekaligus paling humanis ketika Coach Luthfi Jamili menutup rangkaian materi dengan refleksi tentang tagline Kopiko: “Gantinya Ngopi.”

Jika dilihat secara sederhana, tagline tersebut berbicara tentang sebuah produk. Namun dalam konteks seminar, gagasan tersebut dapat dibawa jauh lebih dalam.

Mengapa manusia membutuhkan kopi? Bukan semata-mata karena kandungan kafeinnya. Ada sesuatu yang lebih manusiawi di dalam aktivitas minum kopi.

Kopi sering menjadi alasan untuk berhenti sejenak. Untuk berbicara. Untuk bertemu. Untuk mendengarkan. Untuk berbagi cerita. Untuk membangun hubungan.

Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan energy, tetapi juga membutuhkan connection. Dan mungkin di sinilah pesan “Gantinya Ngopi” menjadi lebih mengena.

Bukan sekadar mengganti secangkir kopi dengan permen kopi. Tetapi bagaimana sebuah rasa dapat menjadi jembatan menuju rasa yang lebih dalam pada manusia.

Rasa dihargai. Rasa didengarkan. Rasa dimengerti. Rasa memiliki. Rasa dipercaya. Dan rasa bahwa apa yang kita lakukan memiliki arti.

Bagi sebuah organisasi, hal ini menjadi sangat penting. Terlebih saat ini banyak hal yang sudah berkaitan dengan teknologi dan AI.

Kita dapat memiliki data analytics yang sangat canggih. Kita dapat memiliki ERP yang terintegrasi. Kita dapat memiliki warehouse yang modern. Kita dapat memiliki KPI yang lengkap. Kita dapat memiliki strategi yang hebat.

Tetapi semua itu pada akhirnya dijalankan oleh manusia. Dan manusia tidak hanya bekerja dengan logika. Manusia bekerja dengan pikiran sekaligus perasaan.

Sabtu, 03 Oktober 2026

RESI (Real Solution & Resilience Solution)

The Philosophy Behind SGN Consulting

Di dunia consulting, memberikan rekomendasi bukanlah bagian tersulit. Yang lebih sulit adalah memastikan bahwa rekomendasi tersebut, dapat diterapkan, menyelesaikan masalah nyata, memberikan dampak yang terukur, dan membuat organisasi menjadi lebih siap menghadapi tantangan berikutnya.

Atas dasar pemikiran tersebut, SGN Consulting membangun sebuah filosofi yang disebut RESI yaitu Real Solution & Resilience Solution.

RESI menjadi basis yang menjiwai cara SGN Consulting melihat masalah, merancang solusi, dan mendampingi implementasi. Karena bagi SGN Consulting, solusi yang baik bukan hanya solusi yang bekerja hari ini. Solusi yang lebih baik adalah solusi yang membuat perusahaan tetap mampu bekerja ketika kondisi berubah.

Real Solution berangkat dari satu prinsip sederhana, a solution is only valuable when it solves a real problem. Consulting bukan tentang membuat rekomendasi yang terlihat kompleks. Bukan tentang menggunakan istilah yang sulit. Bukan pula tentang menghasilkan laporan yang tebal. Consulting harus dimulai dari masalah nyata yang dihadapi organisasi.

Masalah terkadang belum terlihat tetapi mulai menunjukkan gejalanya. Karena itu, langkah pertama SGN Consulting bukan langsung memberikan solusi. Langkah pertama adalah memahami masalah.

Masalah yang terlihat belum tentu merupakan masalah yang sebenarnya. Inventory tinggi mungkin bukan karena warehouse terlalu besar. Bisa jadi penyebabnya adalah planning. Planning yang buruk mungkin bukan karena planner. Bisa jadi karena data demand tidak akurat. Demand yang tidak akurat mungkin bukan karena Sales. Bisa jadi karena tidak ada proses S&OP yang efektif.

Karena itu, SGN Consulting menggunakan pendekatan, Symptom → Problem → Root Cause → Solution. Bukan, Symptom → Recommendation. Inilah yang membedakan solusi nyata dari sekadar quick recommendation.

Sebuah solusi dapat terlihat sangat baik di atas kertas. Tetapi jika terlalu mahal, terlalu kompleks, tidak sesuai kemampuan organisasi, tidak tersedia infrastrukturnya, tidak diterima oleh pengguna, atau tidak dapat dipelihara, maka solusi tersebut belum benar-benar menjadi solusi.

Karena itu SGN Consulting menggunakan prinsip, Practicality before Complexity. Solusi harus cocok dengan kondisi perusahaan, bukan memaksa perusahaan mengikuti solusi.

Solusi tidak berhenti ketika rekomendasi selesai. Keberhasilan harus dapat dilihat melalui perubahan. Dengan demikian, consulting tidak hanya menghasilkan deliverable. Consulting harus menghasilkan impact.

Real Solution membutuhkan satu hal penting, yaitu implementation. SGN Consulting tidak memisahkan antara Think dan Do.

  • Analisis harus diterjemahkan menjadi action.
  • Strategi harus diterjemahkan menjadi program.
  • Program harus diterjemahkan menjadi project.
  • Project harus menghasilkan perubahan.
  • Perubahan harus menghasilkan impact.

Jika Real Solution menjawab, “Bagaimana kita menyelesaikan masalah hari ini?”, maka Resilience Solution menjawab pertanyaan yang lebih jauh, “Bagaimana agar masalah tersebut tidak menghancurkan organisasi ketika kondisi berubah?”

Inilah dimensi kedua dari RESI, yaitu Resilience Solution. Resilience memastikan perusahaan tetap mampu bertahan ketika resource tersebut terganggu. Maka, the most efficient system is not always the most resilient system.

Real Solution dan Resilience Solution bukan dua pendekatan yang berdiri sendiri. Keduanya saling melengkapi. Real Solution menyelesaikan masalah yang ada. Resilience Solution mempersiapkan organisasi menghadapi masalah yang mungkin terjadi.

Jika hanya Real Solution, masalah hari ini selesai, tetapi masalah serupa dapat kembali. Jika hanya Resilience Solution, organisasi sangat siap menghadapi risiko, tetapi masalah operasional hari ini belum tentu selesai.

Maka SGN Consulting memadukan keduanya Solve Today. Strengthen Tomorrow.

Organisasi yang hanya mampu menyelesaikan masalah hari ini akan selalu mengejar masalah berikutnya. Organisasi yang lebih kuat adalah organisasi yang mampu menyelesaikan masalah, mampu menghadapi perubahan, dan mampu belajar dari setiap perubahan tersebut.

Itulah semangat RESI.


SGN Consulting

Real Solution & Resilience Solution

Solve Today. Strengthen Tomorrow.

Senin, 24 Agustus 2026

Single Source of Truth dalam Digitalisasi

Selalu saja ada yang menarik jika kita berkumpul dan bertemu. Topiknya bisa apa saja. Kali ini kami berlima bertemu di Bara Cafe Surabaya di jalan Masjid Al-Akbar Utara No 1 Surabaya, berbincang-bincang sepulang dari kantor tentang digitalisasi.

Digitalisasi telah menjadi salah satu agenda utama perusahaan di berbagai industri. ERP diterapkan. Dashboard dibuat. Dokumen mulai menggunakan sistem digital. Warehouse menggunakan barcode. Produksi menggunakan sensor. Approval dilakukan secara elektronik. Data mulai tersimpan dalam database.

Namun setelah semua itu dilakukan, muncul sebuah pertanyaan penting, apakah perusahaan benar-benar sudah menjadi lebih baik?

Karena digitalisasi bukan sekadar memindahkan proses manual ke dalam komputer. Jika proses yang buruk hanya dipindahkan ke sistem digital, maka perusahaan tidak menjadi lebih baik. Perusahaan hanya memiliki proses yang buruk dalam bentuk digital.

Salah satu kesalahpahaman paling umum adalah menganggap digitalisasi sama dengan menghilangkan kertas. Memang, paperless merupakan salah satu hasil digitalisasi. Tetapi digitalisasi memiliki cakupan yang jauh lebih luas.

Proses manual: Form → Approval → Input → Rekap → Report

dapat berubah menjadi: Data Capture → System Processing → Data Integration → Analytics → Decision

Perubahannya bukan sekadar pada medianya. Yang berubah adalah cara perusahaan bekerja.

Dalam perusahaan, data tersedia dalam jumlah besar. Sales memiliki data order. Warehouse memiliki data inventory. Production memiliki data output. Procurement memiliki data purchasing. Finance memiliki data cost. Maintenance memiliki data downtime. HR memiliki data manpower.

Masalahnya sering kali bukan kekurangan data. Masalahnya adalah, data tersebut tidak terhubung. Akibatnya, setiap departemen memiliki versinya sendiri. Sales memiliki angka sendiri. PPIC memiliki angka sendiri. Warehouse memiliki angka sendiri. Finance memiliki angka sendiri.

Ketika angka berbeda, perusahaan mulai menghabiskan waktu untuk mencari, “Data siapa yang benar?”

Digitalisasi seharusnya menyelesaikan persoalan tersebut melalui single source of truth.

Data yang terintegrasi belum otomatis menghasilkan keputusan yang baik. Perusahaan membutuhkan kemampuan untuk mengubah: Data → Information → Insight → Decision → Action.

Di sinilah digitalisasi mulai memberikan nilai. Bukan ketika dashboard terlihat menarik. Tetapi ketika data membantu manajemen mengambil keputusan yang lebih cepat dan lebih tepat. 

Prinsip Lean Management mengatakan bahwa aktivitas yang tidak memberikan value perlu dikurangi atau dihilangkan. Prinsip tersebut juga berlaku dalam digitalisasi. Bayangkan sebuah perusahaan memiliki proses approval dengan tujuh tahapan. Setelah digitalisasi, tujuh tahapan tersebut tetap ada. Hanya saja sekarang approval dilakukan melalui aplikasi.

Salah satu fondasi penting digitalisasi perusahaan adalah Enterprise Resource Planning (ERP). ERP memungkinkan berbagai fungsi bisnis terhubung dalam satu sistem. Ketika satu transaksi dapat mengalir melalui seluruh proses tersebut, perusahaan memperoleh visibilitas yang lebih baik. Inilah salah satu nilai utama digitalisasi: End-to-End Visibility.

Artificial Intelligence semakin memperluas kemampuan digitalisasi. Tetapi AI bukan titik awal. Selain itu juga ada kekhawatiran bahwa digitalisasi akan menggantikan manusia. Bagi perusahaan, digitalisasi yang berhasil bukanlah digitalisasi yang paling canggih. Tetapi digitalisasi yang membuat perusahaan lebih cepat, lebih akurat, lebih transparan, lebih efisien, lebih adaptif, dan lebih mampu mengambil keputusan.

Karena tujuan akhir digitalisasi bukanlah menjadi perusahaan yang paling digital. Tujuannya adalah menjadi perusahaan yang lebih baik karena menggunakan teknologi.


SGN Consulting — Digitalization & Business Transformation 

Kamis, 28 Mei 2026

Green Financial

Dalam sebuah pertemuan siang hari, sambil makan siang di Ruas Rasa Resto yang berada di jalan Gayungsari Barat No.29 Surabaya, kali ini kami berempat membahas topik yang sangat menarik, yaitu ketika keputusan keuangan menjadi bagian dari Transformasi Hijau.

Transformasi menuju bisnis yang berkelanjutan sering kali dimulai dari sisi operasional. Perusahaan berusaha mengurangi penggunaan energi, menekan limbah, meningkatkan efisiensi material, mengoptimalkan transportasi, menggunakan energi terbarukan, hingga menerapkan konsep circular economy.

Namun ada satu pertanyaan yang sering terlupakan, bagaimana seluruh transformasi tersebut diterjemahkan ke dalam keputusan finansial perusahaan? 

Di sinilah konsep Green Financial menjadi penting. Green Financial bukan sekadar menyediakan dana untuk proyek yang ramah lingkungan. Lebih jauh dari itu, Green Financial merupakan pendekatan yang menghubungkan financial decision, operational efficiency, environmental impact, dan long-term business value.

Dengan pendekatan ini, aspek lingkungan tidak lagi ditempatkan sebagai aktivitas tambahan di luar bisnis, tetapi menjadi salah satu pertimbangan dalam bagaimana perusahaan mengalokasikan modal, mengendalikan biaya, mengelola risiko, dan menciptakan nilai.

Perusahaan dapat memiliki banyak program lingkungan. Mengurangi penggunaan plastik. Menggunakan lampu hemat energi. Mengganti kendaraan operasional. Memasang panel surya. Melakukan recycling. Mengurangi penggunaan kertas. Namun program tersebut akan sulit berkembang apabila selalu dipandang sebagai environmental cost.

Green Financial membawa perspektif yang berbeda. Pertanyaannya bukan hanya, “Berapa biaya untuk menjalankan program green?” Tetapi juga “Berapa nilai finansial yang dapat diciptakan dari transformasi green tersebut?”

Misalnya, investasi mesin yang lebih hemat energi mungkin membutuhkan capital expenditure yang lebih tinggi. Tetapi investasi tersebut dapat menghasilkan, penurunan konsumsi energi, penurunan biaya produksi, peningkatan produktivitas, pengurangan maintenance, penurunan emisi, dan peningkatan umur aset. Maka investasi tersebut tidak seharusnya hanya dinilai berdasarkan harga pembelian mesin, tetapi berdasarkan total economic value sepanjang umur investasi.  

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menyamakan Green Financial dengan Green Financing. Keduanya memiliki hubungan, tetapi tidak identik. Green Financing lebih fokus pada sumber pendanaan untuk aktivitas atau proyek yang memberikan manfaat lingkungan. Sedangkan Green Financial memiliki cakupan yang lebih luas.

Salah satu prinsip penting Green Financial adalah mengubah cara perusahaan melihat biaya lingkungan. Contohnya adalah waste. Dalam pendekatan tradisional, waste dianggap sebagai biaya. Secara finansial, perusahaan melihat scrap sebagai kehilangan material. Green Financial menambahkan pertanyaan, Apakah scrap tersebut masih memiliki economic value?

Jika dapat digunakan kembali, didaur ulang, atau dijual sebagai secondary material, maka perusahaan tidak hanya mengurangi environmental impact. Perusahaan juga berpotensi menciptakan additional revenue atau cost avoidance. Di sinilah Green Financial bertemu dengan, Circular Economy.

Energi sering dianggap sebagai biaya operasional biasa. Padahal bagi industri manufaktur, energi dapat menjadi salah satu komponen biaya yang signifikan. Maka program efisiensi energi seharusnya tidak berhenti pada target, “mengurangi konsumsi listrik.”

Tetapi harus diterjemahkan menjadi,

Energy Saving → Cost Saving → Cash Flow Improvement.

Supply chain merupakan salah satu area yang sangat relevan dengan Green Financial. Setiap keputusan supply chain memiliki konsekuensi finansial sekaligus lingkungan.  Lingkungan juga merupakan sumber risiko finansial. Perubahan iklim dapat memengaruhi supply chain. Bencana alam dapat menghentikan operasi. Kelangkaan bahan baku dapat meningkatkan harga. Regulasi lingkungan dapat meningkatkan compliance cost. Perubahan preferensi konsumen dapat mengurangi permintaan terhadap produk yang dianggap tidak sustainable. Supplier dengan environmental performance yang buruk juga dapat menciptakan reputational risk bagi perusahaan.

Karena itu, Environmental Risk → Operational Risk → Financial Risk.

Green Financial membantu perusahaan memasukkan risiko tersebut ke dalam proses pengambilan keputusan. Tidak mungkin mengelola sesuatu yang tidak dapat diukur. Karena itu Green Financial membutuhkan integrasi data.

Tujuan akhir Green Financial bukan sekadar membuat perusahaan terlihat lebih hijau. Tujuannya adalah menciptakan sustainable financial value. Perusahaan harus mampu menemukan hubungan antara:

Efficiency → mengurangi penggunaan sumber daya

Dengan demikian, sustainability bukan lagi sekadar program CSR. Ia masuk ke dalam business model.


SGN Consulting - Sustainability & Financial Transformation

Sabtu, 12 Juli 2025

Tersesat di Jalan yang Lurus

Di sudut hangat sebuah kafe bernama Akara Coffee, kami sebagai teman lama duduk mengelilingi meja kayu panjang dengan secangkir kopi favorit masing-masing. Obrolan mereka awalnya begitu bebas, tak punya arah jelas, membicarakan masa lalu, curhat soal kerjaan yang menjenuhkan, hingga tawa lepas tentang hal-hal kecil yang dulu terasa besar.

Namun di antara gurauan dan cerita, terselip ide-ide orisinil meskipun mungkin bukan sesuatu yang baru. Seolah membuka gerbang imajinasi, obrolan itu melaju ke ide-ide segar, mulai dari ide podcast obrolan ringan yang bisa diupload di Youtube, hingga menelurkan sebuah buku.

Yang menarik tentunya adalah usulan platform konten digital untuk edukasi finansial ringan. Kita berkaca pada suksesnya akun Youtube Close The Door milik Deddy Corbuzier. Obrolan yang semula ngalor-ngidul itu tiba-tiba terasa padat, penuh gagasan, penuh semangat.

Kita seakan tersenyum dan tertawa geli saat menyadari betapa tak terduga arah pembicaraan itu. “Kita tuh kayak lagi tersesat, tapi di jalan yang lurus,”, mengacu pada pepatah yang menggambarkan betapa kadang mengikuti arus saja bisa membawa pada tempat yang tak disangka.

Itulah yang terjadi di Akara Coffee sore itu, di antara denting cangkir, lahir benih-benih mimpi yang entah kapan akan tumbuh. Tapi satu hal pasti: kadang ide terbaik justru muncul bukan dari pertemuan formal atau proposal panjang, melainkan dari obrolan hangat, tanpa tekanan, bersama teman-teman yang tepat.

Dan Akara Coffee menjadi saksi, bahwa tersesat pun bisa jadi awal dari perjalanan yang benar.

Sabtu, 23 November 2024

Jika Bumi Mengalami Kelebihan Oksigen

Sesuai dengan nama cafe Angonjiwo (Angon Jiwo) tempat kami nongkrong, tiba-tiba kita mempunyai inspirasi tentang jiwa bumi, bagaiman jika bumi mengalami kelebihan oksigen (misalnya, kadar oksigen di atmosfer meningkat signifikan dari tingkat saat ini sekitar 21%), beberapa efek besar bisa terjadi pada kehidupan dan lingkungan. Berikut adalah beberapa konsekuensinya:

Dampak pada Lingkungan

  • Peningkatan Risiko Kebakaran:
    Kadar oksigen tinggi membuat material lebih mudah terbakar dan meningkatkan intensitas kebakaran. Hutan, padang rumput, dan ekosistem lain bisa menjadi lebih rentan terhadap kebakaran besar, yang akan memengaruhi keseimbangan ekosistem.

  • Percepatan Oksidasi:
    Oksigen mempercepat reaksi kimia, terutama oksidasi. Logam seperti besi akan lebih cepat berkarat, dan bahan organik akan terurai lebih cepat, yang dapat mengganggu siklus alami seperti pembentukan tanah.

Apakah Kelebihan Oksigen Pernah Terjadi di Bumi?

Ya, kadar oksigen di atmosfer bumi pernah lebih tinggi daripada sekarang. Sekitar 300 juta tahun lalu (pada zaman Karbon), oksigen mencapai hingga 35% dari atmosfer. Era tersebut dikenal dengan hutan yang luas dan hewan arthropoda raksasa. Namun, tingginya oksigen juga membuat bumi lebih rentan terhadap kebakaran besar.

Kelebihan oksigen di bumi dapat membawa konsekuensi besar, mulai dari dampak kesehatan bagi manusia hingga gangguan ekosistem dan lingkungan. Atmosfer bumi telah mencapai keseimbangan yang mendukung kehidupan seperti sekarang, sehingga perubahan drastis dapat mengganggu stabilitas ini. Memahami hubungan antara kadar oksigen dan keberlanjutan kehidupan membantu kita menjaga keseimbangan ekosistem bumi.


Jika Kadar Oksigen di Bumi Berlipat Ganda: Percepatan Respirasi dan Pembakaran

Bumi saat ini memiliki atmosfer yang terdiri dari sekitar 21% oksigen, jumlah yang ideal untuk mendukung kehidupan. Namun, bagaimana jika kadar oksigen ini berlipat ganda menjadi sekitar 42%? Perubahan ini akan membawa dampak besar pada banyak aspek kehidupan dan lingkungan, terutama dalam proses yang bergantung pada oksigen seperti respirasi dan pembakaran. 


Pembakaran yang Lebih Intens dan Cepat

Oksigen adalah elemen penting dalam reaksi pembakaran. Jika kadar oksigen meningkat dua kali lipat.


Meningkatnya Risiko Kebakaran
Material seperti kayu, kertas, atau bahan bakar fosil akan lebih mudah terbakar bahkan dengan percikan kecil. Kebakaran hutan bisa menjadi jauh lebih sering terjadi dan lebih sulit dikendalikan.

Peningkatan oksigen akan memengaruhi ekosistem secara besar-besaran, terutama karena banyak organisme dan proses alami yang sangat bergantung pada keseimbangan kadar oksigen.


Kebakaran yang Meluas:
Dengan bahan organik yang lebih mudah terbakar, ekosistem seperti hutan dan padang rumput bisa rentan terhadap kebakaran besar, mengubah lanskap alami secara drastis.


Pelajaran dari Masa Lalu: Zaman Karbon
Sekitar 300 juta tahun lalu, kadar oksigen di bumi lebih tinggi daripada saat ini, mencapai sekitar 35%. Pada masa itu, bumi dipenuhi dengan hutan lebat, dan serangga serta arthropoda raksasa seperti capung dengan lebar sayap hingga 70 cm mendominasi. Namun, kadar oksigen tinggi juga membuat kebakaran lebih sering terjadi, yang memengaruhi evolusi dan pola ekosistem.

Perubahan Besar yang Perlu Diwaspadai

Penggandaan kadar oksigen di bumi akan membawa dampak besar, baik positif maupun negatif. Di satu sisi, proses seperti respirasi dan pembakaran akan menjadi lebih cepat dan efisien. Namun, di sisi lain, ini dapat menimbulkan risiko kesehatan, kerusakan ekosistem, dan perubahan besar dalam cara manusia hidup dan berinteraksi dengan lingkungan.

Penting untuk memahami bahwa keseimbangan adalah kunci. Kadar oksigen di atmosfer saat ini telah mendukung kehidupan selama jutaan tahun. Mengganggu keseimbangan ini, bahkan dalam skala kecil, bisa mengubah dinamika kehidupan di bumi secara drastis. Jika suatu hari kadar oksigen meningkat signifikan, kita harus bersiap menghadapi konsekuensinya dengan solusi yang inovatif dan berkelanjutan.


Pengaruh pada kehidupan tanaman

Jika terjadi penggandaan kadar oksigen di Bumi, perubahan paling signifikan adalah percepatan proses seperti respirasi dan pembakaran. Dengan adanya lebih banyak bahan bakar, yaitu oksigen, kebakaran hutan akan menjadi lebih besar dan dahsyat. Vegetasi basah juga tidak akan memberikan perlindungan. Apa pun dan segalanya akan lebih mudah terbakar.

Kebakaran hutan akan menjadi hal umum dengan dua kali lipat oksigen yang ada sebab dapat memicu api.

Pada saat yang sama, proses seperti fotosintesis akan melambat karena konsentrasi karbon dioksida yang lebih rendah di atmosfer. Vegetasi hijau akan memberi jalan bagi lanskap yang lebih prasejarah, yang dipenuhi lumut dan jamur.


Sumber :

https://www.cnbcindonesia.com/tech/20220928074524-37-375492/begini-nasib-bumi-jika-oksigen-meningkat-2-kali-lipat

Kamis, 18 November 2021

Dekarbonisasi di dalam Energy Value Chain

Perubahan iklim atau Climate change menjadi sebuah tantangan besar di abad ke-21. Dibutuhkan Tindakan serta komitmen yang tegas untuk men-dekarbonisasi seluruh rantai pasok di semua industri. Apabila terlambat di dalam penanganannya risikonya akan sangat merugikan dan dapat mengganggu perekonomian global.

Paris Agreement telah menjadi dasar bagi sebagian besar tindakan  kita terhadap perubahan iklim hingga saat ini, yang juga merupakan bagian dari Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim. Diadopsi oleh hampir 200 negara pada tahun 2015 dan berlaku sejak November 2016, "Tujuan Paris" adalah membatasi pemanasan global hingga jauh di bawah 2°C dengan suhu ideal 1,5°C dibandingkan dengan suhu pada masa pra-industri. Namun terlepas dari banyaknya inisiatif di negara-negara di seluruh dunia – ada yang sangat ambisius, dan ada pula yang tidak antusias – suhu global saat ini sedang bergerak menuju 3°C. Dengan kenaikan suhu setinggi ini, bukan hanya mengakibatkan cuaca yang ekstrem serta risiko kelelahan akibat panas bagi individu, namun juga keanekaragaman hayati yang sedikit demi sedikit mulai punah, kenaikan permukaan air laut yang berpotensi menimbulkan bencana dan, bagi perekonomian global  penurunan tahunan PDB hingga 12 persen.


Tekanan bagi Perusahaan di Sektor Energi

Value Chain di sektor energi adalah salah satu penyebab terbesar yang menghasilkan gas rumah kaca (Greenhouse gas). Kegiatan utama dalam industri yang menghasilkan emisi adalah pembangkit listrik berbahan bakar fosil (0.4 – 0.9 t CO2eq/MWh), ekstraksi gas (0.1 – 0.2 t CO2eq per ton), pencairan gas (0.3 t CO2eq per ton) berikut dengan transportasinya. Sadar akan diperlukannya tindakan, para pembuat kebijakan di seluruh dunia menuntut agar industri dan para pemakai untuk mengurangi tingkat emisi mereka. Banyak negara telah menerapkan mekanisme yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan ini, mulai dari sistem penetapan harga dan insentif karbon hingga standar yang harus dipatuhi oleh industri pembangkit tenaga listrik serta mengubah perilaku konsumen untuk beralih ke pemasok yang lebih ramah lingkungan. Untungnya, sektor produksi dan pasokan energi sudah memiliki sejumlah solusi dengan bertransformasi menggunakan energi terbarukan.


Ragam pendekatan dan teknologi yang tersedia untuk memitigasi emisi karbon di dalam sector energi.

Sumber: Roland Berger

Mengidentifikasi solusi

Tantangan baru terbentang di depan para pemangku kepentingan di industri energi, baik itu perusahaan minyak dan gas, utilitas, investor, atau penyedia energi. Pemain di sepanjang value chain energi harus berusaha menghindari risiko, atau setidaknya menjaganya seminimal mungkin. Pada saat yang bersamaan, dekarbonisasi menawarkan banyak peluang yang disarankan untuk dikembangkan dan dimanfaatkan secara maksimal oleh para pemangku kepentingan.

Selasa, 16 November 2021

Terminal Tipe A, B & C di Jawa Timur

Di Surabaya setidaknya ada 4 terminal yaitu Terminal Bungurasuh, Terminal Joyoboyo, Bratang, Kedungcowek dan Terminal Osowilangun. Jika kita lihat masing-masing terminal tersebut ada yang ramai namun juga ada yang kurang ramai. Ternyata pengelolaannya tidak semuanya diatur oleh Pemerintah Kota setempat, namun diatur bedasarkan tipe dari terminal-terminal tersebut. 

https://id.wikipedia.org/wiki/Terminal_Joyoboyo

Misalnya Terminal Joyoboyo merupakan Terminal dengan Tipe B yang artinya kewenangan pengelolaan ada pada Pemerintah Provinsi. Di Surabaya selain Terminal Joyoboyo, terminal tipe B lainnya di Surabaya adalah Bratang dan Kedungcowek. Sedangkan Terminal Osowilangun juga Terminal B dimana sebelumnya merupakan tipe A.

Dalam UU 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah telah diatur kewenangan pengelolaan terminal, yaitu Terminal tipe A dikelola oleh pemerintah pusat, Terminal tipe B dikelola Pemprov, sedangkan tipe C dikelola Kabupaten/kota. 

Merujuk pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 79 Tahun 2018, terdapat penetapan kode terminal untuk mengklasifikasikan tipenya. Terdapat 3 tipe terminal bus yang ditetapkan menurut aturan tersebut, yakni terminal tipe A, B, dan C.

Klasifikasi tipe terminal bus dilakukan guna mewujudkan pengelolaan kendaraan angkutan penumpang yang tertib, mendukung pelaksanaan penjualan tiket angkutan umum, serta memudahkan integrasi data transportasi darat.

Sedangkan untuk fungsi pelayanan dari masing-masing terminal tersebut diatur dalam PP RI No.43 tahun 1993 yaitu:

  • Terminal penumpang Tipe A, yaitu yang berfungsi melayani kendaraan penumpang umum untuk angkutan antar kota antar propinsi (AKAP), dan angkutan lintas batas antar negara, angkutan antar kota dalam propinasi (AKDP), angkutan kota (AK) serta angkutan pedesaan (ADES).
  • Terminal penumpang Tipe B, yaitu yang berfungsi melayani kendaraan penumpang umum untuk angkutan antar kota dalam propinasi (AKDP), angkutan kota (AK) serta angkutan pedesaan (ADES).
  • Terminal penumpang Tipe C, yaitu yang berfungsi melayani kendaraan penumpang umum  untuk angkutan pedesaan (ADES).

Dan dalam Peraturan Menteri Perhubungan (permenhub) 135 pasal 8 (3), bahwa terminal B merupakan terminal yang peran utamanya melayani kendaraan umum angkutan antar kota dalam provinsi.

Total dari dari 34 Terminal tipe B di Jatim 26 terminal diantaranya adalah:

  1. Terminal Padangan (Bojonegoro)
  2. Terminal Temayang (Bojonegoro)
  3. Terminal Betek (Bojonegoro)
  4. Terminal Lamongan (Lamongan)
  5. Terminal Bunder (Gresik),
  6. Termibal Larangan (Sidoarjo)
  7. Terminal Kertajaya (Mojokerto),
  8. Terminal Anjuk Ladang (Nganjuk)
  9. Terminal Caruban (Madiun)
  10. Terminal Maospati (Magetan)
  11. Terminal Magetan (Magetan)
  12. Terminal Ngadirajo (Pacitan)
  13. Terminal Kesamben (Blitar),
  14. Terminal Batu (Kota Batu),
  15. Terminal Hamid Rusdi (Kota Malang)
  16. Terminal Landungsari (kota Malang)
  17. Terminal Untung Suropati (Pasuruan)
  18. Terminal Minak Koncar (Lumajang)
  19. Terminal Ambulu (Jember)
  20. Terminal Arjasa (Jember)
  21. Terminal Bondowoso (Bondowoso)
  22. Terminal Situbondo (Situbondo)
  23. Terminal Brawijaya (Banyuwangi)
  24. Terminal Trunojoya (Sampang)
  25. Terminal Bangkalan (Bangkalan)
  26. Terminal Ronggo Sukowati (Pamekasan).

Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat nomor SK.5520/AJ.104/DRJD/2018 tentang Penetapan Kode Terminal Penumpang Tipe A, di Jawa Timur yaitu sebagai berikut

  1. Terminal Arjosari (Malang)
  2. Terminal Arya Wiraraja (Sumenep)
  3. Terminal Bangkalan 
  4. Terminal Banyuangga (Probolinggo)
  5. Terminal Gayatri (Tulungagung)
  6. Terminal Kertonegoro (Ngawi)
  7. Terminal Pacitan
  8. Terminal Patria (Blitar)
  9. Terminal Purboyo (Madiun)
  10. Terminal Selo Aji (Ponorogo)
  11. Terminal Tamanan (Kediri)
  12. Terminal Tawangalun (Jember)
  13. Terminal Surodakan (Trenggalek)
  14. Terminal Rajekwesi (Bojonegoro)
  15. Terminal Pasuruan
  16. Terminal Kambang Putih (Tuban)
  17. Terminal Sri Tanjung (Banyuwangi)
  18. Terminal Osowilangun (Surabaya)
  19. Terminal Purabaya (Sidoarjo)

Contoh Terminal Tipe C adalah Terminal Pare, dimana berdasarkan SK yang dikeluarkan per tanggal 28 Januari merupakan tipe C, sehingga baik aset dan pengelolaan Terminal Pare menjadi hak Pemkab Kediri.

Contoh lainnya Terminal Tipe C adalah terminal yang berada di utara Terminal Patria untuk mobil penumpang umum (MPU). Terminal tipe C itu cukup untuk menampung mobil penumpang umum (MPU) yang beroperasi di Kota Blitar yang berjumlah sekitar 20 unit.

Pembagian tipe terminal beserta tanggung jawabnya ini sangatlah penting. Karena jika kita sering melakukan perjalanan, acap kali kita jumpai terminal yang mangkrak. Jika terminal tersebut dikelola dengan baik dan benar, maka tidak ayal tidak hanya dapat memperlancar arus orang namun juga dapat memperlancar arus logistik seperti perpindahan barang yang dapat meningkatkan perekonomian suatu daerah.


Sumber :

https://siter.dishub.jatimprov.go.id/

https://www.harianbhirawa.co.id/pemkot-surabaya-diduga-turunkan-tipe-terminal/

https://dishub.acehprov.go.id/informasi/taukah-kamu-perbedaan-terminal-tipe-a-tipe-b-dan-tipe-c/

https://radarkediri.jawapos.com/politik/26/06/2018/terminal-pare-tipe-c-bupati-sudah-teken-sk

https://otomotif.kompas.com/read/2021/09/18/110200915/kenali-perbedaan-status-terminal-bus-tipe-a-b-dan-c?page=all.

https://jdih.dephub.go.id/assets/uudocs/kepEI/2018/20._Penetapan_Kode_Terminal_Penumpang_Tipe_A_.pdf

https://jatim.tribunnews.com/2019/01/10/pemkot-blitar-kelola-kembali-terminal-tipe-c-yang-sempat-diambil-alih-pusat.

https://surabaya.tribunnews.com/2019/12/25/rencana-dprd-jatim-tentang-status-terminal-joyoboyo-ini-tanggapan-pemkot-surabaya

https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4948311/26-terminal-tipe-b-se-jatim-disemprot-disinfektan-antisipasi-corona.

Kamis, 11 November 2021

Memahami Gas-Gas yang Menimbulkan Efek Rumah Kaca

Efek rumah kaca (greenhouse effect) adalah penggerak utama perubahan iklim yang  telah terjadi di bumi. Dan penyebab utama terbesar adalah beberapa gas di atmosfer bumi yang menjebak panas matahari. Semakin banyak gas rumah kaca terkonsentrasi di atmosfer, akan semakin banyak panas yang terkunci di dalam molekul. 


Sumber : scitechdaily.com

Sejak tahun 1824 para ilmuwan telah mengetahui mengenai efek rumah kaca. Mereka telah menghitung bahwa Bumi akan jauh lebih dingin jika tidak memiliki atmosfer. Efek rumah kaca alami inilah yang membuat iklim bumi tetap layak huni. Tanpanya, rata-rata temperatur di permukaan bumi akan menjadi 33 derajat celcius lebih dingin. 

Banyak dari gas rumah kaca ini terjadi secara alami. Namun aktivitas manusia sejak revolusi industri telah meningkatkan konsentrasinya di atmosfer. Berikut gas-gas yang menyebabkan pemanasan global. 

  • Carbon dioxide (CO2) 
  • Methane 
  • Nitrous oxide 
  • Fluorinated gases 

Karbon dioxide (CO2) yang dihasilkan oleh aktivitas manusia merupakan penyumbang terbesar pemanasan global. Pada tahun 2020, konsentrasinya di atmosfer telah meningkat menjadi 48% di atas tingkat konsentrasi di jaman pra-industri (sebelum tahun 1750). CO2 adalah gas rumah kaca berumur panjang yang paling signifikan di atmosfer bumi. CO2 juga menyebabkan pengasaman laut karena CO2 larut di dalam air dan membentuk asam karbonat.

Metana adalah gas rumah kaca yang lebih kuat daripada CO2, namun memiliki umur hidup yang lebih pendek di atmosfer. Konsentrasi metana di atmosfer bumi telah meningkat sekitar 150% sejak tahun 1750, dan menyumbang 20% dari total radiasi gas rumah kaca. 

Nitrous oxide, seperti CO2, adalah gas rumah kaca berumur panjang yang terakumulasi di atmosfer selama beberapa dekade hingga berabad-abad. Konsentrasi oksida nitrat di atmosfer mencapai 333 bagian per miliar (ppb) pada tahun 2020, meningkat dengan laju sekitar 1 ppb per tahun. Berdasarkan perhitungan global, sumber dan penyerapan N2O selama dekade yang berakhir 2016 menunjukkan bahwa sekitar 40% dari rata-rata 17 TgN/tahun (Tera-gram Nitrogen per tahun) emisi berasal dari aktivitas manusia, dan menunjukkan bahwa pertumbuhan emisi terutama berasal dari perluasan area pertanian serta industri di negara berkembang. 

Fluorinated gases adalah gas buatan manusia yang dapat bertahan di atmosfer selama berabad-abad dan berkontribusi pada efek rumah kaca global. Terdiri dari hidrofluorokarbon (HFC) - digunakan dalam banyak aplikasi termasuk pendinginan komersial, pendinginan industri, sistem pendingin udara, peralatan pompa panas, dan sebagai agen peniup untuk busa, pemadam kebakaran, propelan aerosol, dan pelarut; Perfluorocarbons (PFCs) - senyawa yang terdiri dari fluor dan karbon, banyak digunakan dalam industri elektronik, kosmetik, dan farmasi, serta dalam proses pendinginan bila dikombinasikan dengan gas lainnya. PFC biasanya digunakan sebagai alat pemadam kebakaran di masa lalu dan masih ditemukan di sistem proteksi kebakaran yang lebih tua. Mereka juga merupakan produk sampingan dari proses peleburan aluminium; Sulfur heksafluorida (SF6) digunakan terutama sebagai gas insulasi dan sering ditemukan pada switchgear tegangan tinggi dan digunakan dalam produksi magnesium. 

Berikut adalah beberapa penyebab dari meningkatnya emisi gas rumah kaca. 

  1. Pembakaran batu bara, minyak, dan gas menghasilkan karbon dioksida dan dinitrogen oksida yang dilepas ke atmosfer. 
  2. Penebangan hutan (deforestasi). Pohon membantu mengatur iklim dengan menyerap CO2 dari atmosfer. Ketika ditebang, manfaatnya dalam menyerap CO2 hilang dan karbon yang tersimpan di dalam pohon akan dilepaskan ke atmosfer, dan menambah efek rumah kaca. 
  3. Meningkatkan peternakan. Sapi dan domba menghasilkan metana dalam jumlah besar ketika mereka mencerna makanan mereka. 
  4. Pupuk yang mengandung nitrogen menghasilkan emisi oksida nitrat. 
  5. Gas fluorinated dipancarkan dari peralatan dan produk yang menggunakannya. Emisi tersebut memiliki efek pemanasan yang sangat kuat, hingga 23.000 kali lebih besar dari CO2.

Erwin K. Awan (12.11.2021)
SGN Consulting

Jumat, 05 November 2021

COP26 – Bersatunya Dunia Mengatasi Perubahan Iklim

Pandemi COVID-19 telah menimbulkan bencana bagi jutaan orang di seluruh dunia serta mengacaukan ekonomi global. Pemerintahan di seluruh dunia telah mengambil langkah untuk melindungi kehidupan serta mata pencaharian bagi setiap orang. Namun perubahan iklim masih terus berlanjut, dan pada akhirnya dapat mengancam kehidupan di muka bumi.

Ketika banyak negara mulai pulih dari pandemi COVID-19, di saat yang bersamaan kita juga harus mengatasi perubahan iklim, membangun kembali ekonomi yang lebih hijau serta menjaga suhu planet tetap terkendali, membatasi kenaikannya hingga 1,5 derajat. Sains menyatakan bahwa di paruh kedua abad ini, kita harus memproduksi lebih sedikit karbon. Inilah yang dimaksud dengan 'net zero'.

Perjalanan sudah dimulai. Meskipun dalam masa pandemi, arah perjalanan telah berganti. Sekitar 70% dari ekonomi dunia sekarang tercakup oleh target nol bersih (net-zero). Dunia sedang bergerak menuju masa depan rendah karbon. Energi yang bersih dan ramah lingkungan, seperti angin dan matahari, sekarang menjadi sumber listrik paling murah di sebagian besar negara-negara; membuat banyak pembuat mobil dunia beralih untuk hanya membuat model listrik dan hibrida; negara-negara di seluruh dunia memulai pekerjaan penting untuk melindungi dan memulihkan alam. Kota-kota dan negara-negara di seluruh dunia juga berkomitmen untuk mengurangi emisi hingga nol.

Sayangnya mengurangi emisi saja tidaklah cukup. Bagi banyak negara, gambarannya jauh lebih suram. Terutama bagi negara-negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, yang telah melihat rumah mereka menghilang di bawah air dan tanaman mereka hancur karena kekeringan. Di tahun 2009, negara-negara maju telah berjanji akan berupaya mengumpulkan $100 miliar setiap tahun pada tahun 2020 untuk membantu negara-negara ini mengatasi perubahan iklim. Dan para negara pendonor harus menunjukkan bahwa target akan tercapai dan bahkan dilampaui.

Tidak ada cara yang memadahi untuk mencapai emisi nol bersih tanpa melibatkan perlindungan dan pemulihan alam dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jika kita serius dalam mencegah kenaikan suhu hingga 1,5 derajat dan beradaptasi dengan dampak perubahan iklim, kita harus mengubah cara kita melindungi tanah dan laut kita dan bagaimana cara kita menanam makanan kita. Hal ini sangat penting jika kita ingin melindungi dan memulihkan keanekaragaman hayati dunia, tempat semua kehidupan bergantung.

Semoga dalam even COP26 tahun ini di Glasgow, UK, akan dihasilkan tindakan dalam melindungi dan memulihkan hutan dan ekosistem kritis, serta menjadi penggerak dalam transisi menuju pertanian yang berkelanjutan, tangguh, dan positif terhadap alam.


SGN Consulting

Erwin K. Awan (05.11.2021)

Selasa, 05 Januari 2021

5 Productivity Tips for Managing Change During Covid-19

 

The COVID-19 pandemic will undoubtedly become one of the defining moments of our lifetimes. The way we have banded together to combat the crisis has been inspiring on so many levels. Hoarding toilet paper on the other hand, well …

It’s important for organizations to understand that being flexible in uncertain times is of the utmost importance to ensure workers stay healthy and can prioritize properly to maintain productivity—and positivity—while managing change.

Of course, Management of Change has traditionally been focused on operations at the plant itself—faulty materials, defects, abnormal operating environments, etc., but this is different. Many organizations that are not accustomed to a total telecommuting structure will have to adapt and adapt quickly.

  1. Keep Them Healthy
    Companies’ No. 1 priority during a pandemic is ensuring the health, safety and well-being of workers and their families. Many areas have already implemented shelter in place orders, including lockdowns in countries such as Italy, Spain and France (one citizen even ran a marathon—yes, a marathon—going back and forth on his balcony), but there are many germ-eliminating tips that you can share with your workers to keep their homes safe.

Make sure employees are following any guidance, updates and recommendations from organizations like the World Health Organization, the U.S. Centers for Disease Control and Prevention and the European Centre for Disease Control and Prevention to help flatten the curve to ensure the health and safety of millions of people. All of Sphera’s employees are currently working from home and receiving regular updates from human resources as the situation remains fluid. It is important to communicate not only business-related messaging with employees but also pertinent information to ensure they are receiving updates on how they can keep themselves and their families healthy.

Also, just like the marathon man showed, it’s important to stay active even when you’re working from home. Cheapism.com has some links to some good buys on exercise equipment if you need something, and CNBC has a good list of workout apps to keep active while at home.

  1. Mental Health Is Just as Important
    Making sure workers are staying healthy includes mental health as well. Most people are not accustomed to staying in their homes for long stretches like this. Boston.com has a great list of video board games like “Catan,” “Ticket to Ride” and “Words With Friends” that you can recommend to your employees to play during lunch breaks or after-hours to help maintain camaraderie and social interaction. And there are great virtual tools like Google Hangout, Skype or Zoom to help colleagues stay connected.

It’s also important to practice social distancing, but suggest your workers go out for a walk around their neighborhoods to get some fresh air while maintaining a safe distance from other passersby. Fast Company has a great list of tips as well in a recent article, including “creating a routine,” “managing your information intake” and “recognizing your needs.” Of course, if a worker needs to talk to someone, many insurance plans do offer Employee Assistance Programs, which offer free, confidential counseling. There are also a lot of great resources that employees can find online, including this list from the National Alliance on Mental Illness.

“Leaders are the culture setters within organizations—an even more critical role in our new virtual workforce,” wrote Kelly Greenwood, the founder and CEO of Mind Share Partners, a not-for-profit that focuses on workplace mental health, in Forbes. “It’s on us to help pave the way for our teams.”

Exactly.

  1. Keep Up the Good Work
    Some employers tend to think that a work-from-home situation leads to a drop in productivity. Studies have shown that is not true. Airtasker, a “gig” economy platform surveyed 1,004 full-time employees last year and found that remote workers worked 21.9 days a month compared with 20.5 days for in-office workers, which translates to an additional 16.8 days per year.

Remote workers do take longer breaks—22 minutes on average vs. 18 for in-office workers—but people working from home log, on average, 27 “unproductive” minutes per day vs. 37 for in-office workers. Yes, there tends to be distractions at home, especially with kids and pets seeking workers’ attention, so 61% of remote workers said it was easy to focus during the workday vs. 71% for in-office colleagues.

That’s why it’s important for employers to be understanding if work schedules need to change to accommodate the current circumstances. Aircall, a cloud-based phone system company, has a great list of tips on how employees can stay productive while working at home, including sticking to a schedule, setting priorities and using the proper tools (comfort does help!).

  1. How Software Can Help
    Sphera’s mission is to create a safer, more sustainable and productive world. To that end, Sphera offers its customers Health and Safety Management tools that can help deal with the COVID-19 pandemic or any other virus outbreak for that matter.

Sphera’s Incident Management module, allows companies to capture information about when an employee has been exposed to or been diagnosed with COVID-19 or another virus. In response to COVID-19, a new feature of our Risk Assessment module will be deployed shortly to help companies survey the well-being and productivity of remote workers. Clients can use Sphera’s Audit module, to create new checklists to understand facility-readiness against guidance from sources such as the WHO, and the European and U.S. CDCs. Companies can also use Advanced Risk Assessment and Desktop Pro to assess business continuity and/or security risk from COVID-19.

  1. Stay Positive
    We know things can seem bleak, but that’s even more of a reason to maintain positivity. For instance, Spherions took part in a virtual happy hour recently and have been staying connected and sharing information on Yammer. People need social interaction. We also love this list from Museum Hack on “13 Creative Virtual Team Building Activities for Remote Teams.” Check it out and let us know what you’re doing to help employees stay positive. Use the hashtag #SpheraPositiveAtHome on social media.

It’s a cliché, but we’re all in this together, and we will get through this together. Stay safe everyone!


Sumber :
https://sphera.com/blog/5-productivity-tips-covid-19/

Seminar SCM

Supply Chain Management sering kali dipahami sebagai persoalan bagaimana barang bergerak dari supplier menuju customer. Namun dalam perkemba...