Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 November 2024

Jika Bumi Mengalami Kelebihan Oksigen

Jika bumi mengalami kelebihan oksigen (misalnya, kadar oksigen di atmosfer meningkat signifikan dari tingkat saat ini sekitar 21%), beberapa efek besar bisa terjadi pada kehidupan dan lingkungan. Berikut adalah beberapa konsekuensinya:

Dampak pada Lingkungan

  • Peningkatan Risiko Kebakaran:
    Kadar oksigen tinggi membuat material lebih mudah terbakar dan meningkatkan intensitas kebakaran. Hutan, padang rumput, dan ekosistem lain bisa menjadi lebih rentan terhadap kebakaran besar, yang akan memengaruhi keseimbangan ekosistem.

  • Percepatan Oksidasi:
    Oksigen mempercepat reaksi kimia, terutama oksidasi. Logam seperti besi akan lebih cepat berkarat, dan bahan organik akan terurai lebih cepat, yang dapat mengganggu siklus alami seperti pembentukan tanah.

Apakah Kelebihan Oksigen Pernah Terjadi di Bumi?

Ya, kadar oksigen di atmosfer bumi pernah lebih tinggi daripada sekarang. Sekitar 300 juta tahun lalu (pada zaman Karbon), oksigen mencapai hingga 35% dari atmosfer. Era tersebut dikenal dengan hutan yang luas dan hewan arthropoda raksasa. Namun, tingginya oksigen juga membuat bumi lebih rentan terhadap kebakaran besar.

Kelebihan oksigen di bumi dapat membawa konsekuensi besar, mulai dari dampak kesehatan bagi manusia hingga gangguan ekosistem dan lingkungan. Atmosfer bumi telah mencapai keseimbangan yang mendukung kehidupan seperti sekarang, sehingga perubahan drastis dapat mengganggu stabilitas ini. Memahami hubungan antara kadar oksigen dan keberlanjutan kehidupan membantu kita menjaga keseimbangan ekosistem bumi.


Jika Kadar Oksigen di Bumi Berlipat Ganda: Percepatan Respirasi dan Pembakaran

Bumi saat ini memiliki atmosfer yang terdiri dari sekitar 21% oksigen, jumlah yang ideal untuk mendukung kehidupan. Namun, bagaimana jika kadar oksigen ini berlipat ganda menjadi sekitar 42%? Perubahan ini akan membawa dampak besar pada banyak aspek kehidupan dan lingkungan, terutama dalam proses yang bergantung pada oksigen seperti respirasi dan pembakaran


Pembakaran yang Lebih Intens dan Cepat

Oksigen adalah elemen penting dalam reaksi pembakaran. Jika kadar oksigen meningkat dua kali lipat.


Meningkatnya Risiko Kebakaran
Material seperti kayu, kertas, atau bahan bakar fosil akan lebih mudah terbakar bahkan dengan percikan kecil. Kebakaran hutan bisa menjadi jauh lebih sering terjadi dan lebih sulit dikendalikan.

Peningkatan oksigen akan memengaruhi ekosistem secara besar-besaran, terutama karena banyak organisme dan proses alami yang sangat bergantung pada keseimbangan kadar oksigen.


Kebakaran yang Meluas:
Dengan bahan organik yang lebih mudah terbakar, ekosistem seperti hutan dan padang rumput bisa rentan terhadap kebakaran besar, mengubah lanskap alami secara drastis.


Pelajaran dari Masa Lalu: Zaman Karbon
Sekitar 300 juta tahun lalu, kadar oksigen di bumi lebih tinggi daripada saat ini, mencapai sekitar 35%. Pada masa itu, bumi dipenuhi dengan hutan lebat, dan serangga serta arthropoda raksasa seperti capung dengan lebar sayap hingga 70 cm mendominasi. Namun, kadar oksigen tinggi juga membuat kebakaran lebih sering terjadi, yang memengaruhi evolusi dan pola ekosistem.

Perubahan Besar yang Perlu Diwaspadai

Penggandaan kadar oksigen di bumi akan membawa dampak besar, baik positif maupun negatif. Di satu sisi, proses seperti respirasi dan pembakaran akan menjadi lebih cepat dan efisien. Namun, di sisi lain, ini dapat menimbulkan risiko kesehatan, kerusakan ekosistem, dan perubahan besar dalam cara manusia hidup dan berinteraksi dengan lingkungan.

Penting untuk memahami bahwa keseimbangan adalah kunci. Kadar oksigen di atmosfer saat ini telah mendukung kehidupan selama jutaan tahun. Mengganggu keseimbangan ini, bahkan dalam skala kecil, bisa mengubah dinamika kehidupan di bumi secara drastis. Jika suatu hari kadar oksigen meningkat signifikan, kita harus bersiap menghadapi konsekuensinya dengan solusi yang inovatif dan berkelanjutan.


Pengaruh pada kehidupan tanaman

Jika terjadi penggandaan kadar oksigen di Bumi, perubahan paling signifikan adalah percepatan proses seperti respirasi dan pembakaran. Dengan adanya lebih banyak bahan bakar, yaitu oksigen, kebakaran hutan akan menjadi lebih besar dan dahsyat. Vegetasi basah juga tidak akan memberikan perlindungan. Apa pun dan segalanya akan lebih mudah terbakar.

Kebakaran hutan akan menjadi hal umum dengan dua kali lipat oksigen yang ada sebab dapat memicu api.

Pada saat yang sama, proses seperti fotosintesis akan melambat karena konsentrasi karbon dioksida yang lebih rendah di atmosfer. Vegetasi hijau akan memberi jalan bagi lanskap yang lebih prasejarah, yang dipenuhi lumut dan jamur.


Sumber :

https://www.cnbcindonesia.com/tech/20220928074524-37-375492/begini-nasib-bumi-jika-oksigen-meningkat-2-kali-lipat

Kamis, 18 November 2021

Dekarbonisasi di dalam Energy Value Chain

Perubahan iklim atau Climate change menjadi sebuah tantangan besar di abad ke-21. Dibutuhkan Tindakan serta komitmen yang tegas untuk men-dekarbonisasi seluruh rantai pasok di semua industri. Apabila terlambat di dalam penanganannya risikonya akan sangat merugikan dan dapat mengganggu perekonomian global.

Paris Agreement telah menjadi dasar bagi sebagian besar tindakan  kita terhadap perubahan iklim hingga saat ini, yang juga merupakan bagian dari Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim. Diadopsi oleh hampir 200 negara pada tahun 2015 dan berlaku sejak November 2016, "Tujuan Paris" adalah membatasi pemanasan global hingga jauh di bawah 2°C dengan suhu ideal 1,5°C dibandingkan dengan suhu pada masa pra-industri. Namun terlepas dari banyaknya inisiatif di negara-negara di seluruh dunia – ada yang sangat ambisius, dan ada pula yang tidak antusias – suhu global saat ini sedang bergerak menuju 3°C. Dengan kenaikan suhu setinggi ini, bukan hanya mengakibatkan cuaca yang ekstrem serta risiko kelelahan akibat panas bagi individu, namun juga keanekaragaman hayati yang sedikit demi sedikit mulai punah, kenaikan permukaan air laut yang berpotensi menimbulkan bencana dan, bagi perekonomian global  penurunan tahunan PDB hingga 12 persen.


Tekanan bagi Perusahaan di Sektor Energi

Value Chain di sektor energi adalah salah satu penyebab terbesar yang menghasilkan gas rumah kaca (Greenhouse gas). Kegiatan utama dalam industri yang menghasilkan emisi adalah pembangkit listrik berbahan bakar fosil (0.4 – 0.9 t CO2eq/MWh), ekstraksi gas (0.1 – 0.2 t CO2eq per ton), pencairan gas (0.3 t CO2eq per ton) berikut dengan transportasinya. Sadar akan diperlukannya tindakan, para pembuat kebijakan di seluruh dunia menuntut agar industri dan para pemakai untuk mengurangi tingkat emisi mereka. Banyak negara telah menerapkan mekanisme yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan ini, mulai dari sistem penetapan harga dan insentif karbon hingga standar yang harus dipatuhi oleh industri pembangkit tenaga listrik serta mengubah perilaku konsumen untuk beralih ke pemasok yang lebih ramah lingkungan. Untungnya, sektor produksi dan pasokan energi sudah memiliki sejumlah solusi dengan bertransformasi menggunakan energi terbarukan.


Ragam pendekatan dan teknologi yang tersedia untuk memitigasi emisi karbon di dalam sector energi.

Sumber: Roland Berger

Mengidentifikasi solusi

Tantangan baru terbentang di depan para pemangku kepentingan di industri energi, baik itu perusahaan minyak dan gas, utilitas, investor, atau penyedia energi. Pemain di sepanjang value chain energi harus berusaha menghindari risiko, atau setidaknya menjaganya seminimal mungkin. Pada saat yang bersamaan, dekarbonisasi menawarkan banyak peluang yang disarankan untuk dikembangkan dan dimanfaatkan secara maksimal oleh para pemangku kepentingan.

Selasa, 16 November 2021

Terminal Tipe A, B & C di Jawa Timur

Di Surabaya setidaknya ada 4 terminal yaitu Terminal Bungurasuh, Terminal Joyoboyo, Bratang, Kedungcowek dan Terminal Osowilangun. Jika kita lihat masing-masing terminal tersebut ada yang ramai namun juga ada yang kurang ramai. Ternyata pengelolaannya tidak semuanya diatur oleh Pemerintah Kota setempat, namun diatur bedasarkan tipe dari terminal-terminal tersebut. 

https://id.wikipedia.org/wiki/Terminal_Joyoboyo

Misalnya Terminal Joyoboyo merupakan Terminal dengan Tipe B yang artinya kewenangan pengelolaan ada pada Pemerintah Provinsi. Di Surabaya selain Terminal Joyoboyo, terminal tipe B lainnya di Surabaya adalah Bratang dan Kedungcowek. Sedangkan Terminal Osowilangun juga Terminal B dimana sebelumnya merupakan tipe A.

Dalam UU 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah telah diatur kewenangan pengelolaan terminal, yaitu Terminal tipe A dikelola oleh pemerintah pusat, Terminal tipe B dikelola Pemprov, sedangkan tipe C dikelola Kabupaten/kota. 

Merujuk pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 79 Tahun 2018, terdapat penetapan kode terminal untuk mengklasifikasikan tipenya. Terdapat 3 tipe terminal bus yang ditetapkan menurut aturan tersebut, yakni terminal tipe A, B, dan C.

Klasifikasi tipe terminal bus dilakukan guna mewujudkan pengelolaan kendaraan angkutan penumpang yang tertib, mendukung pelaksanaan penjualan tiket angkutan umum, serta memudahkan integrasi data transportasi darat.

Sedangkan untuk fungsi pelayanan dari masing-masing terminal tersebut diatur dalam PP RI No.43 tahun 1993 yaitu:

  • Terminal penumpang Tipe A, yaitu yang berfungsi melayani kendaraan penumpang umum untuk angkutan antar kota antar propinsi (AKAP), dan angkutan lintas batas antar negara, angkutan antar kota dalam propinasi (AKDP), angkutan kota (AK) serta angkutan pedesaan (ADES).
  • Terminal penumpang Tipe B, yaitu yang berfungsi melayani kendaraan penumpang umum untuk angkutan antar kota dalam propinasi (AKDP), angkutan kota (AK) serta angkutan pedesaan (ADES).
  • Terminal penumpang Tipe C, yaitu yang berfungsi melayani kendaraan penumpang umum  untuk angkutan pedesaan (ADES).

Dan dalam Peraturan Menteri Perhubungan (permenhub) 135 pasal 8 (3), bahwa terminal B merupakan terminal yang peran utamanya melayani kendaraan umum angkutan antar kota dalam provinsi.

Total dari dari 34 Terminal tipe B di Jatim 26 terminal diantaranya adalah:

  1. Terminal Padangan (Bojonegoro)
  2. Terminal Temayang (Bojonegoro)
  3. Terminal Betek (Bojonegoro)
  4. Terminal Lamongan (Lamongan)
  5. Terminal Bunder (Gresik),
  6. Termibal Larangan (Sidoarjo)
  7. Terminal Kertajaya (Mojokerto),
  8. Terminal Anjuk Ladang (Nganjuk)
  9. Terminal Caruban (Madiun)
  10. Terminal Maospati (Magetan)
  11. Terminal Magetan (Magetan)
  12. Terminal Ngadirajo (Pacitan)
  13. Terminal Kesamben (Blitar),
  14. Terminal Batu (Kota Batu),
  15. Terminal Hamid Rusdi (Kota Malang)
  16. Terminal Landungsari (kota Malang)
  17. Terminal Untung Suropati (Pasuruan)
  18. Terminal Minak Koncar (Lumajang)
  19. Terminal Ambulu (Jember)
  20. Terminal Arjasa (Jember)
  21. Terminal Bondowoso (Bondowoso)
  22. Terminal Situbondo (Situbondo)
  23. Terminal Brawijaya (Banyuwangi)
  24. Terminal Trunojoya (Sampang)
  25. Terminal Bangkalan (Bangkalan)
  26. Terminal Ronggo Sukowati (Pamekasan).

Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat nomor SK.5520/AJ.104/DRJD/2018 tentang Penetapan Kode Terminal Penumpang Tipe A, di Jawa Timur yaitu sebagai berikut

  1. Terminal Arjosari (Malang)
  2. Terminal Arya Wiraraja (Sumenep)
  3. Terminal Bangkalan 
  4. Terminal Banyuangga (Probolinggo)
  5. Terminal Gayatri (Tulungagung)
  6. Terminal Kertonegoro (Ngawi)
  7. Terminal Pacitan
  8. Terminal Patria (Blitar)
  9. Terminal Purboyo (Madiun)
  10. Terminal Selo Aji (Ponorogo)
  11. Terminal Tamanan (Kediri)
  12. Terminal Tawangalun (Jember)
  13. Terminal Surodakan (Trenggalek)
  14. Terminal Rajekwesi (Bojonegoro)
  15. Terminal Pasuruan
  16. Terminal Kambang Putih (Tuban)
  17. Terminal Sri Tanjung (Banyuwangi)
  18. Terminal Osowilangun (Surabaya)
  19. Terminal Purabaya (Sidoarjo)

Contoh Terminal Tipe C adalah Terminal Pare, dimana berdasarkan SK yang dikeluarkan per tanggal 28 Januari merupakan tipe C, sehingga baik aset dan pengelolaan Terminal Pare menjadi hak Pemkab Kediri.

Contoh lainnya Terminal Tipe C adalah terminal yang berada di utara Terminal Patria untuk mobil penumpang umum (MPU). Terminal tipe C itu cukup untuk menampung mobil penumpang umum (MPU) yang beroperasi di Kota Blitar yang berjumlah sekitar 20 unit.

Pembagian tipe terminal beserta tanggung jawabnya ini sangatlah penting. Karena jika kita sering melakukan perjalanan, acap kali kita jumpai terminal yang mangkrak. Jika terminal tersebut dikelola dengan baik dan benar, maka tidak ayal tidak hanya dapat memperlancar arus orang namun juga dapat memperlancar arus logistik seperti perpindahan barang yang dapat meningkatkan perekonomian suatu daerah.


Sumber :

https://siter.dishub.jatimprov.go.id/

https://www.harianbhirawa.co.id/pemkot-surabaya-diduga-turunkan-tipe-terminal/

https://dishub.acehprov.go.id/informasi/taukah-kamu-perbedaan-terminal-tipe-a-tipe-b-dan-tipe-c/

https://radarkediri.jawapos.com/politik/26/06/2018/terminal-pare-tipe-c-bupati-sudah-teken-sk

https://otomotif.kompas.com/read/2021/09/18/110200915/kenali-perbedaan-status-terminal-bus-tipe-a-b-dan-c?page=all.

https://jdih.dephub.go.id/assets/uudocs/kepEI/2018/20._Penetapan_Kode_Terminal_Penumpang_Tipe_A_.pdf

https://jatim.tribunnews.com/2019/01/10/pemkot-blitar-kelola-kembali-terminal-tipe-c-yang-sempat-diambil-alih-pusat.

https://surabaya.tribunnews.com/2019/12/25/rencana-dprd-jatim-tentang-status-terminal-joyoboyo-ini-tanggapan-pemkot-surabaya

https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4948311/26-terminal-tipe-b-se-jatim-disemprot-disinfektan-antisipasi-corona.

Kamis, 11 November 2021

Memahami Gas-Gas yang Menimbulkan Efek Rumah Kaca

Efek rumah kaca (greenhouse effect) adalah penggerak utama perubahan iklim yang  telah terjadi di bumi. Dan penyebab utama terbesar adalah beberapa gas di atmosfer bumi yang menjebak panas matahari. Semakin banyak gas rumah kaca terkonsentrasi di atmosfer, akan semakin banyak panas yang terkunci di dalam molekul. 


Sumber : scitechdaily.com

Sejak tahun 1824 para ilmuwan telah mengetahui mengenai efek rumah kaca. Mereka telah menghitung bahwa Bumi akan jauh lebih dingin jika tidak memiliki atmosfer. Efek rumah kaca alami inilah yang membuat iklim bumi tetap layak huni. Tanpanya, rata-rata temperatur di permukaan bumi akan menjadi 33 derajat celcius lebih dingin. 

Banyak dari gas rumah kaca ini terjadi secara alami. Namun aktivitas manusia sejak revolusi industri telah meningkatkan konsentrasinya di atmosfer. Berikut gas-gas yang menyebabkan pemanasan global. 

  • Carbon dioxide (CO2) 
  • Methane 
  • Nitrous oxide 
  • Fluorinated gases 

Karbon dioxide (CO2) yang dihasilkan oleh aktivitas manusia merupakan penyumbang terbesar pemanasan global. Pada tahun 2020, konsentrasinya di atmosfer telah meningkat menjadi 48% di atas tingkat konsentrasi di jaman pra-industri (sebelum tahun 1750). CO2 adalah gas rumah kaca berumur panjang yang paling signifikan di atmosfer bumi. CO2 juga menyebabkan pengasaman laut karena CO2 larut di dalam air dan membentuk asam karbonat.

Metana adalah gas rumah kaca yang lebih kuat daripada CO2, namun memiliki umur hidup yang lebih pendek di atmosfer. Konsentrasi metana di atmosfer bumi telah meningkat sekitar 150% sejak tahun 1750, dan menyumbang 20% dari total radiasi gas rumah kaca. 

Nitrous oxide, seperti CO2, adalah gas rumah kaca berumur panjang yang terakumulasi di atmosfer selama beberapa dekade hingga berabad-abad. Konsentrasi oksida nitrat di atmosfer mencapai 333 bagian per miliar (ppb) pada tahun 2020, meningkat dengan laju sekitar 1 ppb per tahun. Berdasarkan perhitungan global, sumber dan penyerapan N2O selama dekade yang berakhir 2016 menunjukkan bahwa sekitar 40% dari rata-rata 17 TgN/tahun (Tera-gram Nitrogen per tahun) emisi berasal dari aktivitas manusia, dan menunjukkan bahwa pertumbuhan emisi terutama berasal dari perluasan area pertanian serta industri di negara berkembang. 

Fluorinated gases adalah gas buatan manusia yang dapat bertahan di atmosfer selama berabad-abad dan berkontribusi pada efek rumah kaca global. Terdiri dari hidrofluorokarbon (HFC) - digunakan dalam banyak aplikasi termasuk pendinginan komersial, pendinginan industri, sistem pendingin udara, peralatan pompa panas, dan sebagai agen peniup untuk busa, pemadam kebakaran, propelan aerosol, dan pelarut; Perfluorocarbons (PFCs) - senyawa yang terdiri dari fluor dan karbon, banyak digunakan dalam industri elektronik, kosmetik, dan farmasi, serta dalam proses pendinginan bila dikombinasikan dengan gas lainnya. PFC biasanya digunakan sebagai alat pemadam kebakaran di masa lalu dan masih ditemukan di sistem proteksi kebakaran yang lebih tua. Mereka juga merupakan produk sampingan dari proses peleburan aluminium; Sulfur heksafluorida (SF6) digunakan terutama sebagai gas insulasi dan sering ditemukan pada switchgear tegangan tinggi dan digunakan dalam produksi magnesium. 

Berikut adalah beberapa penyebab dari meningkatnya emisi gas rumah kaca. 

  1. Pembakaran batu bara, minyak, dan gas menghasilkan karbon dioksida dan dinitrogen oksida yang dilepas ke atmosfer. 
  2. Penebangan hutan (deforestasi). Pohon membantu mengatur iklim dengan menyerap CO2 dari atmosfer. Ketika ditebang, manfaatnya dalam menyerap CO2 hilang dan karbon yang tersimpan di dalam pohon akan dilepaskan ke atmosfer, dan menambah efek rumah kaca. 
  3. Meningkatkan peternakan. Sapi dan domba menghasilkan metana dalam jumlah besar ketika mereka mencerna makanan mereka. 
  4. Pupuk yang mengandung nitrogen menghasilkan emisi oksida nitrat. 
  5. Gas fluorinated dipancarkan dari peralatan dan produk yang menggunakannya. Emisi tersebut memiliki efek pemanasan yang sangat kuat, hingga 23.000 kali lebih besar dari CO2.

Erwin K. Awan (12.11.2021)
SGN Consulting

Jumat, 05 November 2021

COP26 – Bersatunya Dunia Mengatasi Perubahan Iklim

Pandemi COVID-19 telah menimbulkan bencana bagi jutaan orang di seluruh dunia serta mengacaukan ekonomi global. Pemerintahan di seluruh dunia telah mengambil langkah untuk melindungi kehidupan serta mata pencaharian bagi setiap orang. Namun perubahan iklim masih terus berlanjut, dan pada akhirnya dapat mengancam kehidupan di muka bumi.

Ketika banyak negara mulai pulih dari pandemi COVID-19, di saat yang bersamaan kita juga harus mengatasi perubahan iklim, membangun kembali ekonomi yang lebih hijau serta menjaga suhu planet tetap terkendali, membatasi kenaikannya hingga 1,5 derajat. Sains menyatakan bahwa di paruh kedua abad ini, kita harus memproduksi lebih sedikit karbon. Inilah yang dimaksud dengan 'net zero'.

Perjalanan sudah dimulai. Meskipun dalam masa pandemi, arah perjalanan telah berganti. Sekitar 70% dari ekonomi dunia sekarang tercakup oleh target nol bersih (net-zero). Dunia sedang bergerak menuju masa depan rendah karbon. Energi yang bersih dan ramah lingkungan, seperti angin dan matahari, sekarang menjadi sumber listrik paling murah di sebagian besar negara-negara; membuat banyak pembuat mobil dunia beralih untuk hanya membuat model listrik dan hibrida; negara-negara di seluruh dunia memulai pekerjaan penting untuk melindungi dan memulihkan alam. Kota-kota dan negara-negara di seluruh dunia juga berkomitmen untuk mengurangi emisi hingga nol.

Sayangnya mengurangi emisi saja tidaklah cukup. Bagi banyak negara, gambarannya jauh lebih suram. Terutama bagi negara-negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, yang telah melihat rumah mereka menghilang di bawah air dan tanaman mereka hancur karena kekeringan. Di tahun 2009, negara-negara maju telah berjanji akan berupaya mengumpulkan $100 miliar setiap tahun pada tahun 2020 untuk membantu negara-negara ini mengatasi perubahan iklim. Dan para negara pendonor harus menunjukkan bahwa target akan tercapai dan bahkan dilampaui.

Tidak ada cara yang memadahi untuk mencapai emisi nol bersih tanpa melibatkan perlindungan dan pemulihan alam dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jika kita serius dalam mencegah kenaikan suhu hingga 1,5 derajat dan beradaptasi dengan dampak perubahan iklim, kita harus mengubah cara kita melindungi tanah dan laut kita dan bagaimana cara kita menanam makanan kita. Hal ini sangat penting jika kita ingin melindungi dan memulihkan keanekaragaman hayati dunia, tempat semua kehidupan bergantung.

Semoga dalam even COP26 tahun ini di Glasgow, UK, akan dihasilkan tindakan dalam melindungi dan memulihkan hutan dan ekosistem kritis, serta menjadi penggerak dalam transisi menuju pertanian yang berkelanjutan, tangguh, dan positif terhadap alam.


SGN Consulting

Erwin K. Awan (05.11.2021)

Selasa, 05 Januari 2021

5 Productivity Tips for Managing Change During Covid-19

 

The COVID-19 pandemic will undoubtedly become one of the defining moments of our lifetimes. The way we have banded together to combat the crisis has been inspiring on so many levels. Hoarding toilet paper on the other hand, well …

It’s important for organizations to understand that being flexible in uncertain times is of the utmost importance to ensure workers stay healthy and can prioritize properly to maintain productivity—and positivity—while managing change.

Of course, Management of Change has traditionally been focused on operations at the plant itself—faulty materials, defects, abnormal operating environments, etc., but this is different. Many organizations that are not accustomed to a total telecommuting structure will have to adapt and adapt quickly.

  1. Keep Them Healthy
    Companies’ No. 1 priority during a pandemic is ensuring the health, safety and well-being of workers and their families. Many areas have already implemented shelter in place orders, including lockdowns in countries such as Italy, Spain and France (one citizen even ran a marathon—yes, a marathon—going back and forth on his balcony), but there are many germ-eliminating tips that you can share with your workers to keep their homes safe.

Make sure employees are following any guidance, updates and recommendations from organizations like the World Health Organization, the U.S. Centers for Disease Control and Prevention and the European Centre for Disease Control and Prevention to help flatten the curve to ensure the health and safety of millions of people. All of Sphera’s employees are currently working from home and receiving regular updates from human resources as the situation remains fluid. It is important to communicate not only business-related messaging with employees but also pertinent information to ensure they are receiving updates on how they can keep themselves and their families healthy.

Also, just like the marathon man showed, it’s important to stay active even when you’re working from home. Cheapism.com has some links to some good buys on exercise equipment if you need something, and CNBC has a good list of workout apps to keep active while at home.

  1. Mental Health Is Just as Important
    Making sure workers are staying healthy includes mental health as well. Most people are not accustomed to staying in their homes for long stretches like this. Boston.com has a great list of video board games like “Catan,” “Ticket to Ride” and “Words With Friends” that you can recommend to your employees to play during lunch breaks or after-hours to help maintain camaraderie and social interaction. And there are great virtual tools like Google Hangout, Skype or Zoom to help colleagues stay connected.

It’s also important to practice social distancing, but suggest your workers go out for a walk around their neighborhoods to get some fresh air while maintaining a safe distance from other passersby. Fast Company has a great list of tips as well in a recent article, including “creating a routine,” “managing your information intake” and “recognizing your needs.” Of course, if a worker needs to talk to someone, many insurance plans do offer Employee Assistance Programs, which offer free, confidential counseling. There are also a lot of great resources that employees can find online, including this list from the National Alliance on Mental Illness.

“Leaders are the culture setters within organizations—an even more critical role in our new virtual workforce,” wrote Kelly Greenwood, the founder and CEO of Mind Share Partners, a not-for-profit that focuses on workplace mental health, in Forbes. “It’s on us to help pave the way for our teams.”

Exactly.

  1. Keep Up the Good Work
    Some employers tend to think that a work-from-home situation leads to a drop in productivity. Studies have shown that is not true. Airtasker, a “gig” economy platform surveyed 1,004 full-time employees last year and found that remote workers worked 21.9 days a month compared with 20.5 days for in-office workers, which translates to an additional 16.8 days per year.

Remote workers do take longer breaks—22 minutes on average vs. 18 for in-office workers—but people working from home log, on average, 27 “unproductive” minutes per day vs. 37 for in-office workers. Yes, there tends to be distractions at home, especially with kids and pets seeking workers’ attention, so 61% of remote workers said it was easy to focus during the workday vs. 71% for in-office colleagues.

That’s why it’s important for employers to be understanding if work schedules need to change to accommodate the current circumstances. Aircall, a cloud-based phone system company, has a great list of tips on how employees can stay productive while working at home, including sticking to a schedule, setting priorities and using the proper tools (comfort does help!).

  1. How Software Can Help
    Sphera’s mission is to create a safer, more sustainable and productive world. To that end, Sphera offers its customers Health and Safety Management tools that can help deal with the COVID-19 pandemic or any other virus outbreak for that matter.

Sphera’s Incident Management module, allows companies to capture information about when an employee has been exposed to or been diagnosed with COVID-19 or another virus. In response to COVID-19, a new feature of our Risk Assessment module will be deployed shortly to help companies survey the well-being and productivity of remote workers. Clients can use Sphera’s Audit module, to create new checklists to understand facility-readiness against guidance from sources such as the WHO, and the European and U.S. CDCs. Companies can also use Advanced Risk Assessment and Desktop Pro to assess business continuity and/or security risk from COVID-19.

  1. Stay Positive
    We know things can seem bleak, but that’s even more of a reason to maintain positivity. For instance, Spherions took part in a virtual happy hour recently and have been staying connected and sharing information on Yammer. People need social interaction. We also love this list from Museum Hack on “13 Creative Virtual Team Building Activities for Remote Teams.” Check it out and let us know what you’re doing to help employees stay positive. Use the hashtag #SpheraPositiveAtHome on social media.

It’s a cliché, but we’re all in this together, and we will get through this together. Stay safe everyone!


Sumber :
https://sphera.com/blog/5-productivity-tips-covid-19/

Jaga Alam, Lindungi Bumi : Dari Botol Plastik Menuju Aksi Nyata

Jaga Alam, Melindungi Bumi: Dari Botol Plastik Menuju Aksi Nyata Botol plastik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. P...