Tampilkan postingan dengan label Industrial Engineering. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Industrial Engineering. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Januari 2021

Right Amount

Dulu saat tidak tertib minum air putih dan tidak rajin olahraga yang menyebabkan tubuh kekurangan cairan atau dehidrasi, sehingga memicu penurunan tekanan darah atau hipotensi, yaitu jika tekanan darah berada di bawah 90/60 mmHg. Gejalanya adalah pusing, mual dan muntah, lemas dan pandangan buram.

Dikarenakan hipotensi tersebut, akhirnya disarankan untuk merubah pola makan dan gaya hidup, yaitu misalnya dengan memperbanyak konsumsi makanan dengan kadar garam tinggi, memperbanyak konsumsi cairan, dan berolahraga secara teratur.

Namun tentu saja ada batasnya, terutama untuk konsumsi garam. Karena jika tekanan darah kita diatas 140/90 mmHG maka kita akan dinyatakan mengalami tekanan darah tinggi atau hipertensi. Sebagai catatan tekanan darah dikatakan normal jika berada di sekitar 120/80 mmHg, tentunya tergantung usia.

Untuk itu pastikan kita dapat jaga tekanan darah sehingga memenuhi kriteria tekanan darah normal, agar tidak pingsan karena mengalami tekanan darah rendah dan tidak pusing karena mengalami tekanan darah tinggi.

--

Sumber foto : linkedin.com/company/warehouse.space

Setelah sebelumnya kita membahas Right Place yaitu salah satu standarisasi metode penyimpanan dengan tujuan tercipta ketepatan lokasi penyimpanan, standarisasi lainnya dalam Warehouse yang perlu dilakukan adalah Right Amount.

Right amount atau ketepatan jumlah penyimpanan adalah jumlah material yang kita simpan tidak boleh melewati batas maksimum yang telah ditentukan. Misalnya dalam penumpukan barang di Gudang tidak boleh melewati batas tinggi dari maksimum penumpukan.

Salah satu tujuan dari right amount ini adalah untuk mencegah kerusakan material karena tentunya terdapat sebagian material yang tidak boleh disimpan dan tidak boleh ditumpuk dalam jumlah berlebihan.

Tujuan lainnya adalah untuk efektivitas area penyimpanan yang ada pada Gudang. Terlebih jika kita mempunyai space dan luas Gudang yang terbatas.

Untuk itu sebelumnya kita perlu membuat standar maksimum jumlah barang yang boleh disimpan dalam Gudang dan standar maksimum tinggi tumpukan dari setiap barang yang ada dan yang akan disimpan di Gudang.

Cara menata barang di gudang salah satunya yang efisien adalah dengan menggunakan sistem block stacking, yaitu barang disusun secara vertikal sehingga membentuk blok. Dengan pengaturan ini akan dapat menghemat ruang. Namun faktor tinggi tumpukan harus diperhatikan.

Maksimum tinggi tumpukan yang menjadi batas ketinggian juga berkaitan dengan faktor keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di Gudang, karena dapat menimbulkan potensi bahaya yang bisa mengakibatkan cedera.

Staf harus dilatih untuk membungkus dan mengamankan barang dengan baik dan benar, selain itu juga perlu memakai PPE atau APD (alat pelindung diri), lalu menggunakan pola penumpukan yang direkomendasikan, dan mengikuti panduan produsen untuk tinggi penumpukan yang aman dan total kapasitas berat yang di sarankan.

Selain faktor keselamatan terhadap pekerja, penumpukkan barang terlalu tinggi dan penyimpanan barang terlalu banyak dapat menimbulkan resiko rusaknya barang yang meningkat dikarenakan beban yang harus ditahan dan yang harus disimpan.

Untuk itu pastikan inventory kita jaga sehingga memenuhi kriteria Right Amount, agar tidak shortage jika kekurangan barang dan tidak rusak dan berbahaya jika kelebihan barang.

---                                         

Sekali lagi, pastikan kita dapat jaga tekanan darah sehingga memenuhi kriteria tekanan darah normal, agar tidak pingsan karena mengalami tekanan darah rendah dan tidak pusing karena mengalami tekanan darah tinggi. Misalnya dengan mengatur pola makan sehat dan gizi seimbang, kurangi asupan garam dan kafein, rutin berolahraga, pertahankan berat badan ideal, kelola stres dengan baik, hindari merokok dan hindari minuman beralkohol.

 

Salam sehat dan salam improvement.

27.01.2021

Taufan Yanuar

Selasa, 12 Januari 2021

Right Place

 Tahun 90-an, terdapat striker haus goal yang bernama Filippo Inzaghi. Sir Alex Ferguson pernah berujar bahwa Inzaghi sudah offside sejak lahir, saking kesalnya karena Inzaghi kerap berada di dekat dengan gawang.

Dari fisik, Inzaghi kurus, teknik bolanya juga kurang namun jumlah golnya cukup banyak. Kebanyakan goal Inzaghi dikarenakan dia selalu di posisi yang tepat (The Right Man in The Right Place) dan punya sense penempatan posisi yang bagus (sense of positioning) untuk menendang bola masuk ke dalam gawang.

Bahkan legenda Belanda bernama Johan Cruyff mengatakan “Sebenarnya dia tidak bisa bermain sepakbola. Hanya saja, dia selalu berada di posisi yang tepat." .

---

Sumber foto : embrace.co.za

Pernah mencari barang yang sangat diperlukan, namun lupa menaruhnya dimana? Sehingga memakan waktu yang cukup lama.

Di gudang sebagai tempat penyimpanan barang untuk proses Produksi jika terjadi hal serupa maka akan merugikan banyak hal. Jika sampai Departemen Produksi sebagai jantung perusahaan sempat tertunda maka akan dapat membuat line down dan lose time.

Untuk itu metode penyimpanan material wajib diperhatikan secara ideal, tepat dan akurat sehingga menjadi standarisasi dalam hal pemahaman metode dalam penyimpanan dan pelaksanaan sesuai dengan prosedur yang ada.

Salah satu standarisasi metode penyimpanan adalah Right Place, yaitu ketepatan lokasi penyimpanan dengan cara memastikan material tertentu harus disimpan pada lokasi tertentu juga, tidak boleh dicampur dengan material lainnya apalagi dengan material yang memiliki jenis yang berbeda.

Ada 4 langkah dalam Right Place, yaitu

  1. Standar pola penyimpanan
  2. Label pada material
  3. Label pada rak
  4. Garis batas di lokasi penyimpanan

Untuk menentukan pola penyimpanan dalam gudang, kita harus memahami terlebih dahulu bagaimana karakteristik dari produk tersebut, apa kelebihannya dalam sisi penyimpanan, apa saja masalah-masalah yang bisa terjadi saat dalam masa penyimpanan.

Dengan memahami karakteristik tersebut kita dapat membuat strategi penyimpanan yang baik dan benar. Hal ini demi tujuan agar dapat menyelamatkan perusahaan anda dari kerugian sebagai penerapan sistem manajemen gudang.

Setiap barang yang disimpan di dalam gudang harus mempunyai label yang berisikan informasi mengenai nama barang, kode barang dan barcode ID pada setiap barang masing-masing. Label ini akan sangat membantu kita dalam melakukan pelacakan dan pengambilan barang.

Selain label pada setiap barang, juga perlu penamaan dan pemberian label pada setiap rak dan setiap segmen ruang penyimpanan untuk menempatkan arah yang tepat dan mudah. Perencanaan ruang tergantung jenis dan stok barang yang terkadang sering berubah. Meskipun lokasi dan ruangan di gudang sempit, tetap harus dilakukan pemberian batas di sekitar lokasi penyimpanan sebagai pembatas. Dengan tujuan agar barang yang satu tidak tercampur dengan barang yang lain.

Penempatan barang pada gudang akan dapat menjadi masalah yang serius jika tidak diperhatikan dengan baik, karena akan berdampak pada efisiensi gudang dan kerapian. Gudang yang luas, bersih, dan aman akan kurang bernilai jika barang tidak dapat diposisikan di tempat yang strategis. Penempatan barang-barang di lokasi penyimpanan yang baik dan benar akan meningkatkan aksesibilitasnya dan mempercepat waktu pengiriman. Sehingga akan membantu perusahaan dalam mencapai target dan meraih goal.

---                                         

Tahun 2010, usia Inzaghi sudah mencapai 37 tahun. Kala itu lini depan AC Milan selain diperkuat oleh Inzaghi juga terdapat nama tenar seperti Ibrahimovic, Pato dan Robinho. Saat laga di Liga Champions yang mempertemukan antara Madrid vs Milan, Jose Mourinho lebih takut terhadap Filippo Inzaghi.

"Saya tak tahu apakah Allegri akan memainkan lima atau enam penyerang, itu bukan urusan saya, Ia bisa memainkan 10 penyerang kalau mau. Tapi, yang paling penting, Inzaghi tak main atau pertandingan bakal sulit. Anda harus menghormati pemain-pemain ini. Mereka bisa membuat perbedaan. Hanya saja, saya lebih suka jika Inzaghi tak bermain." ujar Mourinho.

Hal ini dikarenakan Inzaghi adalah striker oportunis, yang jika dimainkan akan menghadirkan kejutan untuk mencapai target kemenangan dan meraih goal.

 

Salam sehat dan salam improvement.

13.01.2021

Taufan Yanuar

Selasa, 22 Desember 2020

Begin with the End in Mind

Dalam film The Founder, dikisahkan Ray Kroc semula adalah salesman sebuah brand mixer pembuat milkshake. Suatu saat Kroc hendak menawarkan mesin ke restoran McDonald's di San Bernardino. Disana dia terkesan dengan kecepatan dari sepasang saudara Mac & Dick dalam membuat burger.

Dimana jika burger yang biasa di tempat lain membutuhkan waktu penyajian 30 menit, di McDonald’s hanya perlu 30 detik.

Seketika Kroc melihat potensial dari restoran tersebut, dan membayangkan untuk mengambil alih perusahaan dari dua bersaudara ini dan menciptakan sebuah kerajaan dengan omset miliaran dollar sebagai tujuannya.

Mulailah dengan tujuan akhir.

---

Sumber foto : fabufacture.co.uk

Sebelumnya telah dibahas bahwa dalam implementasi 5S bukan hanya sekedar kebersihan. Terkadang 5S dilakukan saat ada audit atau ada tamu yang datang. Karena bersih itu bukan tujuan, tapi merupakan syarat. 5S merupakan langkah awal menuju program jangka panjang kesehatan perusahaan kita.

5S menjadi barometer manajemen, karena pabrik yang berjalan dengan lancar maka kemungkinan besar dikendalikan oleh sistem yang baik yang melibatkan setiap orang untuk berpartisipasi. 5S menjadi indikator pertama untuk mengetahui apakah pekerjaan berjalan dengan lancar atau tidak.

Yang menjadi target pada kampanye 5S adalah pada langkah S kelima (S-5), yaitu Pembiasaan (Shitsuke / Sustaining / Rajin) memiliki tujuan untuk menjamin keberhasilan dari kontinuitas program 5S sebagai suatu disiplin kerja sehingga menjadi budaya atau berkelanjutan karena pembiasaan.

Sehingga penerapan 5S dapat bertahan dalam jangka panjang, karena 5S tidak lagi dianggap sebagai sebuah proyek namun lebih menjadi cara kerja sehari-hari.

Pembiasaan ini dapat mengubah kebiasaan seseorang, yaitu melakukan hal yang benar sebagai suatu kebiasaan dengan cara melakukan pekerjaan berulang-ulang sehingga secara alami dapat menjadi melakukannya dengan benar.

Pembiasaan ini dapat terjadi jika telah terjadi Pemantapan (Seiketsu / Standardizing / Rawat), sebagai S yang keempat (S-4) dalam penerapan 5S.

Pemantapan ini dapat kita ciptakan dalam tempat kerja yang disiplin, dengan memberikan instruksi yang telah kita standarisasi sebagai rutinitas. Dengan standarisasi maka pembiasaan yang diinginkan dapat tercapai.

Disiplin dan rutinitas harus kita jalankan, kita harus naik tangga, bukan memilih naik eskalator sebagai jalan pintas. 

Apa yang rutinitas. Salah satunya adalah Pembersihan (Seiso / Sweeping / Resik), yaitu S ketiga (S-3) dalam 5S. Membersihkan ini merupakan lebih dari sekedar membuat barang bersih, yaitu dengan menghilangkan debu, kotoran dan benda asing. 

Namun pembersihan juga termasuk menghilangkan penyebab masalah satu demi satu. Pembersihan juga termasuk memeriksa apakah suatu peralatan dapat bekerja dengan baik atau tidak. Sehingga pembersihan juga merupakan proses deteksi dan koreksi.

Kurangilah budaya dan mentalitas dengan merasa bahwa pembersihan dan sanitasi merupakan bagian dari sektor jasa, yaitu untuk melakukannya kita cukup dengan membayar orang. Sehingga jangan punya pikiran bahwa pembersihan merupakan sekedar membersihkan dan memandangnya sebagai pekerjaan yang melelahkan. Jadi, yuk kita jadikan budaya.

Untuk mendukung pembersihan, maka pastikan dilakukan Penataan (Seiton / Setting in order / Rapi), sebagai langkah kedua (S-2) dari aktivitas 5S yang merupakan kegiatan menata tata letak barang, ruangan, peralatan dan perlengkapan kerja dengan rapi sehingga memudahkan untuk mencari, mudah untuk menemukan dan mudah untuk mengembalikan dan segalanya selalu siap pada saat diperlukan.

Penataan berarti menyimpan barang namun dengan tetap memperhatikan efisiensi, mutu dan keamanan serta mencari cara penyimpanan yang optimal. Untuk itu harus dilakukan secara terukur dan teratur. Karena dengan kerapian dan keteraturan yang sangat tinggi maka hal ini dapat menghilangkan pemborosan waktu dalam mengambil  dan menyimpan barang.

Dan akhirnya Pemilahan (Seiri / Sorting / Ringkas) dalam 5S merupakan langkah pertama (S-1) sebagai seni dalam memilih dan memilah lalu membuang barang. Sebagai langkah awal, pilih dan pilah sehingga menjadi ringkas merupakan langkah yang paling penting serta merupakan prioritas tertinggi diantara 5S.

Tidak boleh ada keraguan saat melakukan pemilahan hingga membuang barang tersebut, dan jauhkan pikiran “bila dibuang pemborosan”. Berlakulah tegas terhadap diri sendiri dan team, serta pertahankan keputusan tersebut.

Dalam langkah pertama dari 5S ini mengajarkan kita akan perlunya untuk tidak hanya mengerjakan segala hal, tapi harus juga memperhatikan pemilahan. Jika kita mengabaikan proses pemilahan, maka seringkali kita akan cenderung tidak dapat melihat sasaran maupun caranya.

---

Kembali pada film The Founder, Kroc merealisasikan tujuan dari idenya yaitu menjadikan McDonals sebagai restoran fast food yang harganya murah dan gampang dimakan. Lalu menjadikan sistem waralaba alias franchise untuk mengembangkan McDonald's. 

Kroc pun bekerja sama dengan Mac & Dick dengan melebarkan sayap dengan membuka gerai-gerai waralaba, mengganti es krim dan milkshake konvensional menjadi bentuk bubuk yang enggak membutuhkan pendingin, menggandeng investor-investor middle class, bahkan membeli hak atas nama “McDonald's” dari kakak beradik tersebut hanya dengan 2,7 juta dolar (sekitar Rp2,7 miliar).


Dengan menentukan tujuan yang ingin dicapai, kita akan dapat menentukan langkah yang akan ditempuh dengan harapan langkah tersebut akan membantu kita mencapai tujuan.

 

Salam sehat dan salam improvement.

23.12.2020

Taufan Yanuar

Selasa, 15 Desember 2020

Pilih dan Pilah

Ada yang menarik dari sebuah trailer video di media sosial, yang mengisahkan seorang anak muda yang sedang dalam perjalanan di bandara, lalu terjadi suatu kecelakaan menimpa seorang anak laki-laki. Terkena pecahan kaca papan iklan yang tak sengaja jatuh, anak laki-laki ini mengalami pendarahan di leher. Seseorang lain lagi mengaku sebagai dokter mencoba menolong, tapi anak muda ini mengoreksi yang dokter tersebut lakukan. Singkatnya, anak muda tersebut kemudian melakukan pertolongan pertama yang heroik dan kejadian ini mendadak viral di media sosial.

Itulah kisah Shaun Murphy, sang penderita autisme sekaligus Sindrom Savant, sindrom yang memungkinkan penderitanya memiliki kemampuan spasial dan ingatan fotografis yang luar biasa, dalam serial The Good Doctor Season 1. Dalam kisah-kisah selanjutnya kita akan dibawa ke suasana tegang di ruang bedah RS San Jose St. Bonaventure.

Dalam ruang bedah, kita dapat menyaksikan hanya ada alat yang diperlukan disana,lokasi untuk setiap alat juga sudah dengan urutan seberapa perlunya alat tersebut diperlukan. Dokter bedah harus mampu meraih dengan segera setiap alat yang sering digunakan.

Tentunya alat yang diperlukan saat proses operasi bedah tersebut telah mengalami proses pemilahan dan pemilihan terlebih dahulu sehingga akan sangat efektif dan efisien saat digunakan dalam operasi bedah berlangsung. Karena nyawa seseorang sedang dipertaruhkan.

Sumber foto : www.freepik.com/premium-vector/

---

Seiri (sorting / ringkas) dalam 5S merupakan langkah pertama sebagai seni dalam memilih dan memilah lalu membuang barang. Sehingga secara tidak langsung langkah ini adalah seni membuang barang. Selain sebagai langkah awal ini juga merupakan langkah yang paling penting serta merupakan prioritas tertinggi diantara 5S.

Tidak boleh ada keraguan saat melakukan pemilahan hingga membuang barang tersebut, dan jauhkan pikiran “bila dibuang pemborosan”. Dan juga jangan ada pula pikiran “sementara disimpan hingga nanti dapat diambil keputusan. Kita harus ingat bahwa efisiensi –lah yang ingin kita capai.

Jangan ragu, berlakulah tegas terhadap diri sendiri dan team, serta pertahankan keputusan tersebut.

Dapat dikatakan orang yang terbaik dalam melakukan pemilahan, pemilihan dan pembuangan barang adalah orang yang tidak memiliki barang tersebut.

Setidaknya ada 2 langkah dalam tahap ini yaitu barang yang tidak diperlukan harus disimpan jauh-jauh, sebaliknya barang yang diperlukan disimpan dekat kita. Lalu untuk barang yang disimpan ini harus ditentukan pula berapa banyak yang perlu disimpan, tentunya tidak boleh terlalu banyak.

Sumber foto : www.homesforsaleinmontgomeryalabama.com

Dalam langkah pertama dari 5S ini mengajarkan kita akan perlunya untuk tidak hanya mengerjakan segala hal, tapi harus juga memperhatikan pemilahan. Jika kita mengabaikan proses pemilahan, maka seringkali kita akan cenderung tidak dapat melihat sasaran maupun caranya.

Tidak hanya barang, saat ini kita juga sering dibanjiri oleh informasi, sehingga akan sangat baik jika kita dapat memilah dan memilih barang, jasa dan informasi yang diperlukan daripada sekedar menyimpan setiap barang, jasa dan informasi tersebut. Termasuk dalam hal manajemen informasi kita perlu menyaring informasi.

Dalam melaksanakan pemilahan ini kita harus berpanduan dengan menentukan sasaran terlebih dahulu. Terdapat beberapa metode untuk membantu kita, misalnya Pareto salah satunya.

Dalam asas pemilahan kita bisa bagi menjadi 3 berdasarkan frekuensi pemakaian atau derajat kebutuhan, yaitu rendah : barang yang tidak pernah dipergunakan tahun lalu atau dipergunakan sekali dalam 6 – 12 bulan, lalu sedang : barang yang hanya dipergunakan 2 – 6 bulan terakhir atau barang yang digunakan sekali dalam 1 bulan, dan tinggi : barang yang dipergunakan setiap minggu sekali, setiap hari sekali, atau setiap 1 jam sekali.

---                                         

Kembali ke serial film The Good Doctor, ingatan kita kembali ke tahun 2005 lampau, ada film yang seputar meja bedah, yaitu  Grey's Anatomy, yang menceritakan suka-duka sebagai tenaga medis dan juga hubungan mereka dengan orang-orang dalam kehidupan mereka.

Sama halnya dengan Grey's Anatomy yang tayang hingga season ke-14, film serial The Good Doctor yang mulai tayang tahun 2017 juga cukup sukses dan banyak ditonton, terutama dalam masa pandemi saat ini. November 2020 ini, The Good Doctor memasuki season ke-4.

 

Selamat menonton sambil mempraktekkan pemilahan & pemilihan.

 

Salam sehat dan salam improvement.

16.12.2020

Taufan Yanuar

Rabu, 09 Desember 2020

Terukur dan Teratur

Bagi penyuka kisah detektif tentu tidak asing dengan tokoh Hercule Poirot karangan dari Dame Agatha Mary Clarissa Christie, atau yang lebih dikenal dengan Agatha Christie. Dalam novel fiksi detektif tersebut kita akan dipertemukan dalam kisah dengan teka-teki yang tidak sekedar sulit untuk dipecahkan, namun juga perlu ketelitian untuk memecahkannya.

Ciri khas Poirot adalah berperawakan kecil, kepalanya berbentuk telur, dan yang paling khas adalah kumis mirip sakera yaitu kumis hingga ke pipi dan menjulang ke atas. Untuk pakaian Poirot cenderung berdandan rapi dan necis. Karena obsesinya akan kerapian dan keteraturan sangat tinggi, tak jarang Poirot mengkritik orang lain yang memakai dasi dengan miring.

Dan tokoh utama Poirot, sang detektif, selalu dapat memecahkan misteri berkat ketelitian dan sifat OCD yang menjadikan dia sosok yang terukur dan teratur.

---

Seiton (Setting in order / rapi) adalah langkah ke-2 dari aktivitas 5S yang merupakan kegiatan menata tata letak barang, ruangan, peralatan dan perlengkapan kerja dengan rapi sehingga memudahkan untuk mencari, mudah untuk menemukan dan mudah untuk mengembalikan dan segalanya selalu siap pada saat diperlukan.

Sumber foto : https://www.jll.co.id/en/trends-and-insights/

Contoh untuk membayangkan rapi sebagai langkah dalam 5S adalah misalnya tempat parkir dan perpustakaan. Bayangkan jika mobil di tempat parkir dan buku di rak perpustakan tidak ditata dengan baik, maka akan banyak mobil dan buku yang tidak tersusun.

Sumber foto : https://www.reddit.com/r/oddlysatisfying/

Ada 3 langkah dalam penataan, yaitu yang pertama kita tentukan tempat untuk menyimpan barang secara tepat. Kedua tentukan bagaimana cara menyimpan barang tersebut. Dan yang ketiga adalah mentaati aturan tersebut.

Kemudian yang tidak kalah penting setelahnya adalah pengkajian efisiensi. Yaitu seberapa cepat kita dapat menemukan barang tersebut saat akan diperlukan. Jika memakan waktu lama, lakukan analisis mengapa bisa begitu lama.

Untuk mempercepat dalam pencarian, beberapa hal yang bisa kita lakukan misalnya, memberi nama resmi pada barang tersebut, karena akan memakan waktu jika terdapat 1 barang mempunyai 2 nama. Kemudian selain nama yang tidak kalah penting adalah lokasi yang tergambar pada sketsa di sebuah papan.

Selain itu tips untuk mempercepat pencarian adalah kita kelompokkan barang berdasarkan fungsi atau produk atau proses atau yang lainnya.

Penataan berarti menyimpan barang namun dengan tetap memperhatikan efisiensi, mutu dan keamanan serta mencari cara penyimpanan yang optimal. Untuk itu harus dilakukan secara terukur dan teratur. Karena dengan kerapian dan keteraturan yang sangat tinggi maka hal ini dapat menghilangkan pemborosan waktu dalam mengambil  dan menyimpan barang.

---

Detektif Poirot memang menyukai keteraturan bahkan sangat tergila-gila kepada kerapian dan kebersihan. Dia tidak akan segan-segan segera mengambil sikap untuk membetulkan atau meluruskan sesuatu yang dianggapnya tidak teratur.

Namun jangan sampai kita menderita OCD atau Obsessive-compulsive Disorder, yaitu gangguan mental yang menyebabkan seseorang memiliki pikiran obsesif, perilaku kompulsif (paksaan), atau keduanya. Memang gangguan psikologis ini yang sering disalahartikan sebagai orang yang sangat menyukai keteraturan atau sangat menyukai kebersihan.

Untuk lakukan dengan terukur dan teratur, tapi jangan sampai tersungkur.

Sumber foto : https://riliv.co/rilivstory/

 

Salam sehat dan salam improvement.

09.12.2020

Taufan Yanuar

Selasa, 01 Desember 2020

Yuk, Jadikan Budaya

Hampir setiap usai jam makan siang, Managing Director yang berkebangsaan dari Jepang dari tempatku bekerja sebelumnya, selalu menyempatkan berkeliling pabrik berjalan di tiap lantai dari 3 gedung yang ada. Sambil berjalan mengamati dan menyapa, beliau juga tidak segan-segan memungut sampah jika ditemui lalu dimasukkan ke dalam tempat sampah.

Beliau melakukannya dengan rutin. Buat beliau hal tersebut biasa dilakukan, tidak pernah gengsi dilakukannya, meski beliau merupakan berada di pucuk tertinggi dari perusahaan.

Hal ini bisa dimungkinkan karena kebersihan yang menjadi bagian dari 5S sudah menjadi budaya dan mengakar sejak usia dini.

---

Membersihkan dalam 5S sebagai S yang ke-3 merupakan lebih dari sekedar membuat barang bersih, yaitu dengan menghilangkan debu, kotoran dan benda asing. Namun pembersihan juga termasuk menghilangkan penyebab masalah satu demi satu.

Pembersihan juga meliputi pencucian dan pemolesan. Sehingga slogan “nol kotoran” atau “nihil debu” sering digaungkan dan acap kali dikampanyekan dalam aktivitas 5S.

Pembersihan juga termasuk memeriksa apakah suatu peralatan dapat bekerja dengan baik atau tidak. Sehingga pembersihan juga merupakan proses deteksi dan koreksi.

Sehingga bisa disimpulkan bahwa terdapat 3 langkah pembersihan, yaitu

  1. Makro : membersihkan segala sesuatu dan menangani penyebab keseluruhannya
  2. Individual : membersihkan tempat kerja khusus dan bagian mesin khusus
  3. Mikro : membersihkan bagian dan alat khusus serta penyebab kototan diindentifikasi dan diperbaiki

Kurangilah budaya dan mentalitas dengan merasa bahwa pembersihan dan sanitasi merupakan bagian dari sektor jasa, yaitu untuk melakukannya kita cukup dengan membayar orang. Sehingga jangan punya pikiran bahwa pembersihan merupakan sekedar membersihkan dan memandangnya sebagai pekerjaan yang melelahkan.

Juga jangan lakukan aktivitas 5S pada umumnya dan Pembersihan pada khususnya sendirian, namun jadikan sebagai tanggung jawab bersama yang artinya merupakan tanggung jawab setiap orang. Caranya dengan membagi area kerja untuk menjadi tanggung jawab masing-masing.

Mirip dengan area pertahanan parkir bus dalam sepakbola yang diterapkan oleh Jose Mourinho. Pasukannya bisa kalah melawan tim lawan jika setiap pemain tidak bekerja sama dengan sebaik mungkin.

Begitu juga dengan 5S, kita bisa kalah dalam perang melawan kotoran jika setiap orang tidak bekerja sama dengan baik. Kita bisa gagal jika tidak ada tanggung jawab individual yang digariskan dengan jelas dan tidak ada semangat kerja sama dalam memelihara daerah tanggung jawab kelompok.

---

Budaya Jepang tidak hanya pembersihan dan 5S. Budaya Jepang lainnya adalah senantiasa mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data dan menganalisis data. Hal ini menjadikan Jepang mampu merajai dunia terutama di bidang otomotif dan elektronik.


Sumber foto : scroll.in/field/885160/japan-fans-clean-up-stands-after-belgium-defeat-players-leave-a-thank-you-note-in-dressing-room

Tidak hanya di kantor atau di dunia kerja, budaya bersih juga ditunjukkan di lapangan sepakbola.

Masih ingat di kepala kita, saat Piala Dunia digelar di Brasil (2014) dan Rusia (2018), pendukung timnas Jepang memukau khalayak dunia dengan bertahan di dalam stadion guna memungut sampah. Para pemain timnas Jepang juga meninggalkan ruang ganti dengan kondisi mengilap.


Salam sehat dan salam improvement.

02.12.2020

Taufan Yanuar

Selasa, 24 November 2020

Naik Tangga atau Eskalator?

Ada cerita unik Carlos Tevez yang pernah bermain untuk Manchester United pada tahun 2007 hingga 2009 mengenai Cristiano Ronaldo dalam hal latihan.

CR7 selalu menuju ke gym setelah sesi latihan. Selain itu Ronaldo selalu tiba latihan lebih awal. Ketika latihan dimulai pukul 9 pagi, Tevez datang pukul 8, dan Ronaldo sudah ada di sana. Kemudian lain hari Tevez datang pukul 7.30, namun Ronaldo sudah hadir di tempat latihan

Bahkan pernah suatu hari Tevez sengaja tiba pukul 6 pagi, tapi Ronaldo sudah lebih dahulu datang. Terkantuk-kantuk, tapi dia sudah ada di tempat latihan.

Ronaldo selalu punya waktu untuk berlatih lebih banyak porsi yang diberikan tim. Ronaldo berlatih dengan tingkat disiplin yang tinggi sebagai rutinitas, maka tidak heran segudang prestasi dia raih baik dari gelar klub maupun gelar pribadi.

Cristiano Ronaldo mencapai sukses sejati karena latihan keras dan disiplin. Ibaratnya dia lebih memilih naik tangga dibandingkan naik eskalator sebagai jalan pintas.

---

Sebelumnya kita telah membahas Pembiasaan  (S yang ke-5 dalam 5S) dalam artikel “Berkelanjutan karena Pembiasaan”. Pembiasaan tersebut terjadi dari setelah kita memutuskan untuk melakukan hal yang lebih baik akibat dari perbagai masalah yang timbul sehari-hari.

Sedangkan S yang ke-4 dalam 5S adalah Pemantapan (seiketsu / standardizing / rawat).

Dengan berbagai cara kita ciptakan tempat kerja yang disiplin, dengan memberikan instruksi yang telah kita standarisasi sebagai rutinitas. Dan memang benar bahwa tanpa standarisasi maka pembiasaan yang diinginkan akan sulit tercapai.

Dengan standarisasi maka diharapkan rutinitas atau pemantapan 3S pertama dari 5S bisa terjaga, yaitu seiri (sorting / ringkas), seiton (setting in order / rapi), dan seiso (sweeping / resik).

Standarisasi merupakan pondasi yang diperlukan sekaligus yang akan menjadi dasar dari peningkatan di kemudian hari. Standarisasi bukan lah hal yang membatasi, namun merupakan hal terbaik hari ini yang masih dapat ditingkatkan di hari esok.

Sehingga standarisasi bukanlah memaksakan standar kaku yang menjadikan aktivitas menjadi sesuatu yang rutin dan membosankan. Namun standarisasi harus dipandang sebagai dasar dari pemberdayaan pekerja dan inovasi di tempat kerja.

Tugas penting dalam mengimplementasikan standarisasi adalah menemukan keseimbangan antara prosedur kaku agar diikuti karyawan dan menyediakan kebebasan untuk berinovasi dan menjadi kreatif dengan tujuan target tetap tercapai dan target lainnya seperti biaya, kualitas dan delivery.

Sumber : https://viblo.asia/p/5s-methodology-the-secret-to-japanese-success-3KbvZqw1GmWB

Untuk mendukung hal tersebut, maka perlu adanya manajemen kreatif untuk membuat peringatan visual sehingga dapat membantu setiap orang agar selalu waspada tentang mengapa dan bagaimana memantapkan dari ringkas-rapi-resik. Karena daya tarik visual merupakan alat paling efektif yang dapat dipergunakan.

---

Alih-alih memperkuat otot kaki dengan menaiki tangga, banyak orang yang memilih menggunakan eskalator sebagai jalan pintas. Hal ini dapat kepercayaan diri dan bisa menjadi masalah mentalitas. Memang jika kita naik 1 tangga tidak akan membuat perbedaan yang nyata, namun jika ini menjadi kebiasaan sehari-hari maka akan menjadi perubahan yang significant.

 

Salam sehat dan salam improvement.

25.11.2020

Taufan Yanuar

Selasa, 17 November 2020

Berkelanjutan karena Pembiasaan

 Hari minggu, tanggal 15 November 2020 kemarin diselenggarakan event lari Borobudur Marathon 2020 dalam bentuk format Elite Race Borobudur Marathon 2020 karena yang bertanding adalah hanya 26 atlet yang dipilih organizer berdasarkan catatan waktu di Borobudur Marathon sebelumnya dan rekomendasi PASI.

Dampak wabah pandemi tidak hanya merubah format Borobudur Marathon, namun juga kunjungan wisata ke Candi Borobudur.

Selepas acara Elite Race Borobudur Marathon 2020 tersebut, kami sekeluarga jalan-jalan menikmati keindahan dan kemegahan Candi Borobudur yang menerapkan protokol kesehatan cukup ketat. Para wisatawan hanya diperbolehkan sampai pelataran Candi Borobudur dan harus dipandu oleh tour guide.

Selain wajib memakai masker, saat masuk kawasan, wisatawan akan dicek suhu tubuhnya, bagi wisatawan dengan suhu di bawah 37,5 diberi stiker warna hijau. Lalu wisatawan diminta untuk cuci tangan dan melewati disinfection chamber.

Jumlah pengunjung dibatasi, dimana sebelumnya hanya diperbolehkan hanya 1.500 orang perhari pada bulan Juni 2020, kemudian dinaikkan menjadi 2.000 orang per hari hingga mulai bulan Oktober lalu naik menjadi 3.500 pengunjung per hari. Hal ini terjadi setelah Candi Borobudur sempat ditutup selama 3 bulan, yaitu sejak bulan Maret 2020.

Meski dibatasi hal ini tetap disyukuri, terutama bagi warga yang mempunyai mata pencaharian dari Candi Borobudur, lebih baik sedikit dan perlahan namun berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan konsep Sustainable Niche Tourism yang telah digaungkan sejak 10 tahun lalu.

---

Masalah paling umum pada penerapan 5S adalah tidak dapat bertahan dalam jangka panjang. Tidak berkelanjutan. Disiplin dalam menjaga standar 5S cenderung menyusut perlahan seiring waktu, sehingga pemborosan yang sebelumnya dapat dihilangkan perlahan akan kembali terjadi.

Hal ini dapat terjadi karena penerapan 5S sering kali dianggap sebagai sebuah proyek yang tidak melekat dalam cara kerja sehari-hari sehingga akan dianggap oleh karyawan sebagai fenomena semata yang bersifat sementara saja.

Di negara Jepang, sejak usia dini prinsip 5S telah diajarkan sejak duduk di bangku sekolah. Sehingga tidak heran para karyawan di perusahaan Jepang mereka sangat ketat dan disiplin dalam penerapan prinsip 5S tersebut.

Sumber foto : brightvibes.com/833/en/should-children-clean-their-own-schools-japan-thinks-so

Sedangkan bagi kita di sini, dapat menjalankan pelaksanaan audit 5S berkala sebagai salah satu solusi untuk mengatasi kendala dalam penerapan 5S. Audit 5S dilakukan untuk mendapatkan informasi faktual di lapangan yang nantinya dijadikan dasar dalam rekomendasi perbaikan untuk mencapai standar yang telah ditetapkan.

Kata kuncinya adalah standar, sesuai dengan S yang ke-4 dalam prinsip 5S yaitu Seiketsu (standardizing / rawat), tujuannya adalah untuk menciptakan konsistensi implementasi 3S sebelumnya, yaitu seiri (sorting / ringkas), seiton (setting in order / rapi), dan seiso (sweeping / resik).

Sedangkan S yang ke-5, yaitu Shitsuke atau sustaining / rajin memiliki tujuan untuk menjamin keberhasilan dari kontinuitas program 5S sebagai suatu disiplin kerja sehingga menjadi pembiasaan atau budaya.

5S tidak akan berhasil tanpa pembiasaan. Dengan pembiasaan tersebut maka besar kemungkinan penerapan 5S akan berkelanjutan dan berhasil serta mencapai tujuan akhir.

Pembiasaan ini merupakan cara untuk mengubah kebiasaan seseorang, yaitu melakkukan hal yang benar sebagai suatu kebiasaan. Pembiasaan adalah jika kita melakukan pekerjaan berulang-ulang sehingga secara alami kita dapat melakukannya dengan benar.

Jika kita ingin melakukan pekerjaan kita secara efektif dan efisien serta tanpa kesalahan, maka kita harus melakukannya setiap hari. Kita harus bekerja keras dan sabar dengan mengembangkan kebiasaan yang baik.

Beberapa tips pembentukan kebiasaan baik adalah sebagai berikut

  • Biasakan sistematisasi perilaku
  • Perbaiki komunikasi dan pelatihan untuk memperoleh mutu yang terjamin
  • Atur supaya setiap orang mengambil bagian dan setiap orang melakukan sesuatu
  • Atur segala sesuatu sehingga setiap orang merasa bertanggung jawab atas apa yang mereka kerjakan
  • Jika mereka membuat kesalahan, manajemen harus menunjukkannya dan memastikan bahwa hal tersebut diperbaiki
  • Setiap orang bekerja sama memperkuat tim dan memperkuat perusahaan

---

Semoga saja pembiasaan dan kebiasaan baik di Candi Borobudur bisa tetap berkelanjutan serta dapat diterapkan juga di tempat wisata yang lain, sehingga tidak akan menyebabkan lonjakan penderita baru dari wabah pandemi yang tidak hanya melanda di Indonesia, namun juga di dunia.

Salam sehat & salam improvement

18.11.2020

Taufan Yanuar

Selasa, 10 November 2020

Bersih Itu Bukan Tujuan, Tapi Syarat

Semenjak pertengahan tahun 2017 hingga awal tahun 2018, sering sekali tubuh merasa tidak enak badan. Sehingga mengharuskan sering minum obat supaya badan fit dan sehat kembali untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

Saat melakukan Medical Check Up, mendapatkan nasihat dari dokter bahwa selain menjaga pola makan, juga harus menjaga olahraga, saat itu berat badanku sempat mencapai lebih dari 70 kg. Sejak tahun 2015, memang sudah tidak terlalu rutin bahkan cenderung tidak pernah berolahraga.  Ditambah lagi dengan kesibukan sehari-hari yang banyak menyita perhatian dan waktu bahkan menyebabkan stress.

Akhirnya setelah instropeksi diri, untuk menjaga tubuh tetap sehat kita harus mempunyai kebiasaan yang baik, maka mulai pertengahan tahun 2018 aku mulai rutin olahraga, yaitu lari, bukan hanya demi tujuan kesehatan  dan kebugaran tubuh, tapi lebih kepada karena sehat itu bukan tujuan, tapi merupakan syarat.

—

Begitu pula dengan 5S yang harus diterapkan di perusahaan, dimana 5S merupakan langkah awal menuju program jangka panjang kesehatan perusahaan kita.

5S adalah gerakan yang menjadi kebulatan tekad untuk mengadakan pemilahan di tempat kerja (seiri / sorting / ringkas), mengadakan penataan (seiton / setting in order / rapi), pembersihan (seiso / sweeping / resik), memelihara kondisi yang mantap (seiketsu / standardizing / rawat) dan memelihara kebiasaan yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik (shitsuke / sustaining / rajin).

Sumber foto : https://industrialengineeringdepartment.blogspot.com

Jadi, 5S bukan hanya sekedar kebersihan yang digalakkan saat ada audit atau ada tamu yang datang, namun lebih ke Workplace Organization, yaitu organisasi area kerja yang terkait kepada pembentukan sikap dan moral serta kontrol terhadap proses produksi yang kondusif.

Banyak sekali program improvement yang menjadikan 5S sebagai pondasi TPM. Salah satunya adalah 5S menjadi pondasi dari 8 Pilar TPM (Eight Pillar of Total Productive Maintenance), yang sebagian besar difokuskan pada pada teknik proaktif dan preventif untuk meningkatkan kehandalan mesin dan peralatan produksi.

Jika kita berkaca pada perusahaan yang tidak sehat, maka kita akan temukan lini kerja yang dipenuhi dengan barang catat dan pekerjaan ulangan (rework). Pada lantai produksi akan banyak terdapat peralatan kotor yang seharusnya bersih, peralatan yang seharusnya ada di tempat masing-masing berserakan di sembarang tempat, serta ada sejumlah besar produk reject. Singkatnya tempat itu berantakan.

Tidak itu saja, 5S juga menjadi barometer manajemen, karena pabrik yang berjalan dengan lancar maka kemungkinan besar dikendalikan oleh sistem yang baik yang melibatkan setiap orang untuk berpartisipasi. Dimana salah satu tujuan manajemen adalah merancang prosedur yang mudah diikuti untuk memastikan segala sesuatu berjalan lancar, melibatkan setiap orang dalam membuat dan memelihara penyempurnaan mulai dari tingkat operasi hingga tingkat jaminan mutu. Sehingga 5S menjadi prinsip dasar manajemen.

Dalam hal ini 5S menjadi indikator pertama untuk mengetahui apakah pekerjaan berjalan dengan lancar atau tidak. Karena orang lain memang agak sulit melihat keadaan di lantai produksi, namun setiap saat 5S dapat memberikan gambaran akurat apa yang terjadi di tempat tersebut. Karena perusahaan yang tidak sehat menerapkan 5S dengan buruk.

Karena bersih itu bukan tujuan, tapi merupakan syarat.

—

Alhamdulillah di akhir tahun 2020, olahraga menjadi rutinitas setiap hari Selasa-Kamis-Minggu, kondisi tubuh juga hampir selalu dalam kondisi sehat dan bugar, berat badan juga terjaga di kisaran 60-65 kg.

Salam sehat dan salam improvement.

11.11.2020

Taufan Yanuar


Seminar SCM

Supply Chain Management sering kali dipahami sebagai persoalan bagaimana barang bergerak dari supplier menuju customer. Namun dalam perkemba...