Dalam sebuah pertemuan siang hari, sambil makan siang di Ruas Rasa Resto yang berada di jalan Gayungsari Barat No.29 Surabaya, kali ini kami berempat membahas topik yang sangat menarik, yaitu ketika keputusan keuangan menjadi bagian dari Transformasi Hijau.
Transformasi menuju bisnis yang berkelanjutan sering kali dimulai dari sisi operasional. Perusahaan berusaha mengurangi penggunaan energi, menekan limbah, meningkatkan efisiensi material, mengoptimalkan transportasi, menggunakan energi terbarukan, hingga menerapkan konsep circular economy.
Namun ada satu pertanyaan yang sering terlupakan, bagaimana seluruh transformasi tersebut diterjemahkan ke dalam keputusan finansial perusahaan?
Di sinilah konsep Green Financial menjadi penting. Green Financial bukan sekadar menyediakan dana untuk proyek yang ramah lingkungan. Lebih jauh dari itu, Green Financial merupakan pendekatan yang menghubungkan financial decision, operational efficiency, environmental impact, dan long-term business value.
Dengan pendekatan ini, aspek lingkungan tidak lagi ditempatkan sebagai aktivitas tambahan di luar bisnis, tetapi menjadi salah satu pertimbangan dalam bagaimana perusahaan mengalokasikan modal, mengendalikan biaya, mengelola risiko, dan menciptakan nilai.
Perusahaan dapat memiliki banyak program lingkungan. Mengurangi penggunaan plastik. Menggunakan lampu hemat energi. Mengganti kendaraan operasional. Memasang panel surya. Melakukan recycling. Mengurangi penggunaan kertas. Namun program tersebut akan sulit berkembang apabila selalu dipandang sebagai environmental cost.
Green Financial membawa perspektif yang berbeda. Pertanyaannya bukan hanya, “Berapa biaya untuk menjalankan program green?” Tetapi juga “Berapa nilai finansial yang dapat diciptakan dari transformasi green tersebut?”
Misalnya, investasi mesin yang lebih hemat energi mungkin membutuhkan capital expenditure yang lebih tinggi. Tetapi investasi tersebut dapat menghasilkan, penurunan konsumsi energi, penurunan biaya produksi, peningkatan produktivitas, pengurangan maintenance, penurunan emisi, dan peningkatan umur aset. Maka investasi tersebut tidak seharusnya hanya dinilai berdasarkan harga pembelian mesin, tetapi berdasarkan total economic value sepanjang umur investasi.
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menyamakan Green Financial dengan Green Financing. Keduanya memiliki hubungan, tetapi tidak identik. Green Financing lebih fokus pada sumber pendanaan untuk aktivitas atau proyek yang memberikan manfaat lingkungan. Sedangkan Green Financial memiliki cakupan yang lebih luas.
Salah satu prinsip penting Green Financial adalah mengubah cara perusahaan melihat biaya lingkungan. Contohnya adalah waste. Dalam pendekatan tradisional, waste dianggap sebagai biaya. Secara finansial, perusahaan melihat scrap sebagai kehilangan material. Green Financial menambahkan pertanyaan, Apakah scrap tersebut masih memiliki economic value?
Jika dapat digunakan kembali, didaur ulang, atau dijual sebagai secondary material, maka perusahaan tidak hanya mengurangi environmental impact. Perusahaan juga berpotensi menciptakan additional revenue atau cost avoidance. Di sinilah Green Financial bertemu dengan, Circular Economy.
Energi sering dianggap sebagai biaya operasional biasa. Padahal bagi industri manufaktur, energi dapat menjadi salah satu komponen biaya yang signifikan. Maka program efisiensi energi seharusnya tidak berhenti pada target, “mengurangi konsumsi listrik.”
Tetapi harus diterjemahkan menjadi,
Energy Saving → Cost Saving → Cash Flow Improvement.
Supply chain merupakan salah satu area yang sangat relevan dengan Green Financial. Setiap keputusan supply chain memiliki konsekuensi finansial sekaligus lingkungan. Lingkungan juga merupakan sumber risiko finansial. Perubahan iklim dapat memengaruhi supply chain. Bencana alam dapat menghentikan operasi. Kelangkaan bahan baku dapat meningkatkan harga. Regulasi lingkungan dapat meningkatkan compliance cost. Perubahan preferensi konsumen dapat mengurangi permintaan terhadap produk yang dianggap tidak sustainable. Supplier dengan environmental performance yang buruk juga dapat menciptakan reputational risk bagi perusahaan.
Karena itu, Environmental Risk → Operational Risk → Financial Risk.
Green Financial membantu perusahaan memasukkan risiko tersebut ke dalam proses pengambilan keputusan. Tidak mungkin mengelola sesuatu yang tidak dapat diukur. Karena itu Green Financial membutuhkan integrasi data.
Tujuan akhir Green Financial bukan sekadar membuat perusahaan terlihat lebih hijau. Tujuannya adalah menciptakan sustainable financial value. Perusahaan harus mampu menemukan hubungan antara:
Efficiency → mengurangi penggunaan sumber daya
Dengan demikian, sustainability bukan lagi sekadar program CSR. Ia masuk ke dalam business model.
SGN Consulting - Sustainability & Financial Transformation

Tidak ada komentar:
Posting Komentar