Supply Chain Management sering kali dipahami sebagai persoalan bagaimana barang bergerak dari supplier menuju customer. Namun dalam perkembangannya, SCM tidak lagi hanya berbicara tentang material, inventory, warehouse, transportation, procurement, atau distribution. Supply chain pada akhirnya adalah tentang bagaimana data digunakan untuk mengambil keputusan, bagaimana manusia menjalankan proses, dan bagaimana organisasi membangun kemampuan untuk bertahan menghadapi perubahan.
Perspektif tersebut menjadi benang merah dalam sebuah seminar SCM oleh Bincang Supply Chain (BSC) dengan tajuk Bedah Buku & Bincang Profesi "The Supply Chain Profession" yang menghadirkan beberapa pembicara dengan sudut pandang yang berbeda. Menariknya, materi yang disampaikan tidak berhenti pada aspek teknis Supply Chain, tetapi membawa peserta pada sebuah perjalanan yang lebih luas: dari data menuju manusia, dari kemampuan menuju karakter, dan dari manajemen menuju rasa.
Seminar diawali oleh Agung Ektika. Dalam dunia supply chain modern, data bukan lagi sekadar catatan transaksi. Data telah menjadi salah satu sumber daya strategis yang menentukan kualitas keputusan.
Supply chain menghasilkan data dalam jumlah besar. Sales menghasilkan data demand, procurement menghasilkan data purchasing, warehouse menghasilkan data inventory, production menghasilkan data output dan downtime, transportation menghasilkan data delivery, sedangkan finance menghasilkan data cost. Jika seluruh data tersebut hanya dikumpulkan tanpa dianalisis, maka data tidak lebih dari sekumpulan angka.
Nilai data baru muncul ketika data mampu menjawab pertanyaan bisnis. Apa yang sedang terjadi? Mengapa hal tersebut terjadi? Apa yang kemungkinan akan terjadi? Dan apa yang harus kita lakukan?
Di sinilah data analytics menjadi penting. Data membantu organisasi bergerak dari sekadar knowing menuju understanding, kemudian menuju decision making. Namun supply chain tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk membaca data. Supply chain juga membutuhkan resilience.
Dunia bisnis tidak pernah berada dalam kondisi yang benar-benar stabil. Perubahan demand, gangguan supplier, perubahan harga, keterlambatan transportasi, bencana, perubahan teknologi, hingga perubahan geopolitik dapat mengganggu aliran supply chain. Organisasi yang hanya dibangun untuk kondisi normal akan mudah terganggu ketika kondisi berubah.
Karena itu, data dan resilience sebenarnya memiliki hubungan yang sangat erat. Data membantu organisasi membaca perubahan. Resilience membantu organisasi merespons perubahan. Data memberikan visibility, sedangkan resilience memberikan capability.
Dari pembahasan tentang data dan ketangguhan organisasi, seminar kemudian bergerak menuju aspek yang lebih fundamental, manusia.
Materi kedua disampaikan oleh Dr. Ir. Ari Primantara, S.T., M.MT., IPM., CSCA., CPLM membawa peserta pada pemahaman bahwa teknologi dan sistem tidak akan memberikan hasil optimal tanpa manusia yang memiliki kompetensi yang tepat.
Salah satu yang disampaikan adalah mengenai KSA — Knowledge, Skill, Attitude. Knowledge memberikan pemahaman. Skill membuat seseorang mampu melakukan. Sedangkan Attitude menentukan bagaimana seseorang menggunakan pengetahuan dan keterampilan tersebut.
Seseorang dapat memiliki pengetahuan yang tinggi, tetapi tanpa keterampilan, pengetahuan tersebut sulit diterapkan. Seseorang juga dapat memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik, tetapi tanpa attitude yang tepat, kemampuan tersebut belum tentu menghasilkan kontribusi terbaik bagi organisasi.
Dalam konteks SCM, persoalan manusia sering kali menjadi faktor yang tidak terlihat di balik persoalan operasional. Sistem mungkin sudah tersedia, SOP mungkin sudah dibuat, KPI mungkin sudah ditetapkan, tetapi hasil belum sesuai harapan.
Maka pertanyaannya tidak selalu, “Apa yang salah dengan sistem?”
Terkadang pertanyaan yang lebih tepat adalah, “Apakah orang yang menjalankan sistem tersebut memiliki Knowledge, Skill, dan Attitude yang dibutuhkan?”
Pada titik ini, SCM kembali menunjukkan bahwa keberhasilan proses tidak hanya ditentukan oleh system, tetapi juga oleh people.
Pembahasan kemudian semakin dalam ketika Dr. Shovella Santy Alrosjid membawa materi ketiga, salah satunya adalah mengenai Management People dan Self Driving Mentality.
Mengelola manusia bukan sekadar membagi pekerjaan, memberikan target, kemudian mengawasi hasilnya. Manajemen manusia juga berarti membangun lingkungan di mana seseorang memiliki kesadaran untuk menjalankan tanggung jawabnya tanpa harus selalu menunggu instruksi.
Inilah makna penting dari Self Driving Mentality. Seseorang dengan self-driving mentality tidak selalu bertanya, “Saya harus melakukan apa?”
Tetapi mulai bertanya, “Apa yang perlu saya lakukan agar tujuan organisasi tercapai?”
Perbedaan kedua pertanyaan tersebut terlihat sederhana, tetapi memiliki dampak yang sangat besar. Pertanyaan pertama menunjukkan pola pikir waiting for instruction.
Pertanyaan kedua menunjukkan pola pikir taking ownership. Dalam organisasi yang kompleks, terutama supply chain, tidak semua situasi dapat dituliskan di dalam SOP. Selalu ada kondisi yang berada di luar skenario.
Supplier terlambat. Customer mengubah order. Mesin berhenti. Material tidak tersedia. Transportasi terganggu. Demand berubah secara tiba-tiba.
Dalam kondisi seperti itu, organisasi membutuhkan orang yang tidak hanya mampu menjalankan prosedur, tetapi juga mampu berpikir, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap konsekuensinya.
Di sinilah Self Driving Mentality menjadi bagian dari resilience. Organisasi yang resilient membutuhkan manusia yang resilient.
Dan manusia yang resilient bukan hanya manusia yang mampu bertahan menghadapi masalah, tetapi manusia yang mampu mengambil inisiatif untuk mencari jalan keluar.
Seminar kemudian memasuki bagian yang paling menarik sekaligus paling humanis ketika Coach Luthfi Jamili menutup rangkaian materi dengan refleksi tentang tagline Kopiko: “Gantinya Ngopi.”
Jika dilihat secara sederhana, tagline tersebut berbicara tentang sebuah produk. Namun dalam konteks seminar, gagasan tersebut dapat dibawa jauh lebih dalam.
Mengapa manusia membutuhkan kopi? Bukan semata-mata karena kandungan kafeinnya. Ada sesuatu yang lebih manusiawi di dalam aktivitas minum kopi.
Kopi sering menjadi alasan untuk berhenti sejenak. Untuk berbicara. Untuk bertemu. Untuk mendengarkan. Untuk berbagi cerita. Untuk membangun hubungan.
Karena pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan energy, tetapi juga membutuhkan connection. Dan mungkin di sinilah pesan “Gantinya Ngopi” menjadi lebih mengena.
Bukan sekadar mengganti secangkir kopi dengan permen kopi. Tetapi bagaimana sebuah rasa dapat menjadi jembatan menuju rasa yang lebih dalam pada manusia.
Rasa dihargai. Rasa didengarkan. Rasa dimengerti. Rasa memiliki. Rasa dipercaya. Dan rasa bahwa apa yang kita lakukan memiliki arti.
Bagi sebuah organisasi, hal ini menjadi sangat penting. Terlebih saat ini banyak hal yang sudah berkaitan dengan teknologi dan AI.
Kita dapat memiliki data analytics yang sangat canggih. Kita dapat memiliki ERP yang terintegrasi. Kita dapat memiliki warehouse yang modern. Kita dapat memiliki KPI yang lengkap. Kita dapat memiliki strategi yang hebat.
Tetapi semua itu pada akhirnya dijalankan oleh manusia. Dan manusia tidak hanya bekerja dengan logika. Manusia bekerja dengan pikiran sekaligus perasaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar